by Dian Aza on Saturday, April 2, 2011 at 12:59am
Tak bisa pelanpelan, di manamana roda berputar, memburu jalan. tembok tak punya telinga, juga pintu dan jendela, hanya terbuka tanpa membaca makna. Kaupikir aku sekokoh tembok, bisabisa aku ambruk disergap suarasuara. Seperti sawahsawah tenggelam diinjak semen dan batu bata. Sudah terlambat bagi burung walet untuk menyelamatkan sarang dan telur, sudah terbenam liur mereka dalam semangkuk sup di maja makan pesakitan. Dan cicakcicak kehabisan nyamuk yang keracunan manusia berdarah kotor, tercemar gambargambar. Tapi telingaku hanya dua, yang satu harus kututup rapat agar yang kudengar tak segera terbang kembali lepas mencemari udara.
Ada yang berkotbah di atas mimbar, bicara tentang kemakmuran yang digambar besarbesar, digantung di sepanjang tepi jalan menuju sarang ular. Ular jadi ikutikutan mendesis di lubang telingaku yang nyaris pecah, ularular mengeluh kulitnya dijadikan wadah bagi bendabenda tak bernyawa. Tak lama, seekor bangau hinggap pula di kepalaku, mengadu tentang cacingcacing tak sedap lagi ketika disantap, cacingcacaing terlalu banyak memakan bangkai yang sudah membusuk saat dikubur. Ketika gajah dan semut datang untuk ikut bicara, aku sudah tak sanggup mendengar apaapa selain dengung dan dengung bersahutan. Dengung dan dengung mengurung udara. Kusuruh gajah dan semut beradu lewat jariku, kelingking dan jempol saling menunjuk sejajar perut, menang atau kalah tak akan kudengar.
Aku ingat ketika aku cuma sebatang pohon, kedua telingaku hanya titipan seorang pertapa yang takut mendengar nyanyian merdu setan betina. Pertapa tua yang duduk bersila berabadabad lamanya, bersandar di batangku, bertumpu di akarku. Melihat ketekunannya berdoa, aku heran dan bertanyatanya, kenapa tuhan tak datang, menyapa dan meluluskan pintanya. Waktu aku sudah muak dengan suarasuara gaduh, sepasang telinga pinjaman tak bisa kukembalikan kepada pemiliknya semula. Pertapa tua telah menghilang, entah menjadi debu atau batu.
Dengung kembali berputar, kian dekat dan nyata, kepalaku sungguh hampir pecah. Sebentar kemudian kedua telingaku terlepas, menggelinding di lantai kamar, mata, hidung dan lenganku juga putus, tak ada darah, tak ada kesakitan. Terjadinya sangat cepat, iringiringan jenasah lewat bergitu saja menerobos tubuhku. Diam, diam dan diam, lebih banyak diam daripada semua suara yang pernah menderu di telingaku. Kakikaki menginjak tubuhku, serupa pijatan hangat. Aku tibatiba sangat rindu harum sabun dari pantat seorang sahabat, kehidupan yang berdenyut lembut pada celananya.
Aku mulai menerka, mungkin aku sudah berganti rupa, seperti hutan pada ruang, ruang pada lubang*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar