Selasa, 16 Agustus 2011

malam itu


Kutuangkan arak ke dalam gelas, lalu kutawarkan pada layar monitorku, marilah menenggak kesalahan, kemudian tertawa, adakah pendengar di sana. Seisi dunia sedang mabuk kebenaran, kecuali aku. Maaf teman, aku hanya mampu memiliki sebotol arak dari belas kasihan, air mata tak terbeli, terlalu mahal.

Kurayakan kematian di mataku sendiri, kering. Kering serupa sekeping koin untuk menumpang perahu warna warni, anakku akan tertawa senang. Hanya dengan sebotol arak aku berteman, memuaskan kehilangan dan ketakutan pada kesepian. Tapi tak ada yang benar katamu. Aku masih kekasihmu, masih percaya padamu meski mataku mulai lamur oleh mabuk.

Sepasang kuda liar berlari pulang, aku meloncat tinggi sepenuh hati. Angin memang memanggil. Waktuku, jiwamu terbelenggu rindu pada kalimat sesat di pintu rumah. Tak ada nama tersemat di sana, di atas daun pintu atau daun manapun. Daun telingamu saja ingin kukenang manis sebagai rumah kerinduanku. Masih selalu semanis ingatanku. Kau tahu aku selalu bodoh dan semakin bodoh, lebih bodoh dari daun pintu yang lapuk digigi dan lidah rayap rayap musim kemarau*

untitled


Kulihat jalan panjang, dari celah semak semak cahaya mengintipku, atau aku yang mengintipnya. Tak jadi soal, siapa memandang siapa, mungkin berpandangan lebih menyenangkan kalau bukan dengan selembar benda padat tipis jernih yang cuma mahir menunjukkan diriku sendiri.

Begitulah, akhirnya aku melihat sesuatu, terang, hangat. Sebenarnya selalu, kalau saja aku lebih mempercayai mataku ketika membaca gambar gambar di tembok kota. Anak anak bengal bertangan jahil membuat gambar dan tulisan aneka warna di sana.

Pernah seseorang berkata mencoreti tembok kota adalah tindakan buruk, vandalis namanya, merusak eksistensi keindahan. Lantas apa namanya tembok kota ? Tembok tembok itulah perusak pertama. Kalau ada yang iseng ingin menggambar, menulis, dan memberi warna hanyalah efek samping dari sekat dan ruang. Jadi aku bisa memandang sesuatu yang menimbulkan rasa ingin tahu.

Tak ada satu manusiapun melakukan sesuatu tanpa tujuan, sadar tak sadar, mau tak mau, berbuat adalah sebab sekaligus akibat. Kalau bisa mengatai manusia pencoret tembok, kenapa tak bisa menyalahkan pembuat tembok. Agar bisa dicoret coret sudah pasti sebuah tembok harus lebih dulu berdiri tegak. Ini pemikiran dangkal, dari mana aku tahu tentang kedangkalan kalau aku tak tahu seberapa dalam. Pelik dan ruwet, memang selalu begitu kalau mau menelaah sesuatu. Hahaha…kacau dan sok tahu. Sok tahu mungkin tak sama artinya dengan sungguh tahu. Nah, malah panjang dan tak jelas. Hahaha…suka, aku suka berputar putar, meluncur turun dari tempat tinggi sambil berputar keras.

Jadi memang ada yang kulihat di balik semak semak, cahaya. Tidak istimewa, bukan pula hal baru atau hebat. Abad ini sudah kehabisan kejutan. Tapi bisa melihat saja sudah senang.

Kau tahu kepalaku seringkali lumer macam lahar, tak bisa mengalir keluar. Tidak enak rasanya membawa bawa sesuatu yang menggelegak, terus menerus meletup di dalam tempurung kepala. Apalagi jika tak paham benar apa itu, otak, atau darah, atau getah bening, atau daging, terasa resah. Inilah dunia, kuhibur diriku sendiri dengan kalimat klise. Inilah terlihat dunia.

Kalau sudah melihat, sebaiknya mendekat. Dalil macam apa pula, dari mana dan kenapa, makin tak je;las. Makin jauh bedanya dengan cahaya dari celah ranting yang bikin kepalaku dingin. Dingin dalam makna menyenangkan, seperti es krim.
Mungkin yang menyenangkan pada cahaya dari celah ranting adalah tak pernah semakin dekat. Cahaya, selalu seakan menusuk mata, namun jauh. Menusuk tanpa menyentuh, cahaya ahlinya. Jika bisa disentuh macam cahaya lampu tentu tak terlalu menarik perhatian. Tapi cahaya dari celah semak bukan itu.

Cahaya yang menyusup di celah semak untuk memandangku. Membuatku ingin sekaligus bisa merobohkan seluruh tembok di dunia. Bagusnya ketika kutemukan cahaya dari celah ranting tak kulihat lagi ada sesuatu yang tegak berdiri menghalangi. Tidak ada tipis dan jernih atau besar dan kusam. Semua terhampar, luas, lembut berayun ringan*

kepada langit


Langit yang perkasa, ceritakan tentang segala yang kaudengar, lihat dan rasa.  Agar aku sungguh percaya betapa tak ada yang sia sia, juga kedengkian di hati manusia. Sungguh aku kadang kadang lupa aku juga manusia. Hanya karena memandangmu, aku bisa lupa aku manusia. Padahal kau masih diam, belum berbagi apapun bagian dirimu sendiri.

Kuduga itulah sebabnya mengapa benda benda bercahaya suka menempel padamu, langit yang perkasa.  Kedengkianku pada bulan, bintang apalagi matahari, adalah salah satu alasan bagus untuk mengingat kemanusiaanku. Tapi tidak semudah itu menghapus kecerobohan, apalagi jika membuatmu senang membuktikan aku tak tahu diri. Tidak semudah itu untuk menjadi tak peduli, seperti kau ketika menatap mataku yang perih.
Kau tahu aku selalu menyayangi, entah bagaimana dan kenapa. Langit yang perkasa selalu diam.  Dan aku semakin sayang. Semakin sayang. Merasa tak butuh pembenaran. Hanya selalu sayang.

Langit yang perkasa, aku ingin memandangmu tanpa berharap menemukan apapun selain warnamu yang cuma satu. Warna yang bersembunyi di balik biru atau hitam, bahkan di balik pelangi. Tidak perlu alasan untuk menyayangi  dan memadangmu  sepenuh hati. Tak harus benar atau bersinar*

Minggu, 07 Agustus 2011

derit pintu

Derit pintu, menyentakkan matanya yang terpejam rapat. Dia bergegas menegakkan tubuhnya yang lunglai bersandar di dinding rumah. Kemudian dia kecewa ketika hanya angin yang datang. Meskipun angin itu kemudian menyapu lembut wajahnya. Menghantarkan debu malah, matanya jadi mengerjap, debu debu menyerbu. Keluhannya hanya tercekat di pangkal leher.

Harapan untuk dikunjungi nyaris membunuh dirinya sendiri. Dengan keheningan menyesak di rongga dadanya. Ini karma botol kosong, dia berkata kepada dirinya sendiri. Lucu sekali, berkata kepada diri sendiri membuatnya merasa ingin tertawa. Beginilah rasanya menjadi botol kosong. Salah sendiri begitu kerap mengosongkan botol. Sekarang dia tahu isi dari dalam botol mengaliri sekujur tubuhnya, mengosongkan.

Kosong yang meluap dari jantungnya. Sebenar benarnya kosong, tanpa samaran terasa sungguh kejam. Terang terangan membalaskan dendam. Tapi, dia mencoba membela diri, botol botol memang diciptakan untuk dikosongkan, bukan salahnya.

Ayolah, ini hari minggu, keramaian ada di luar pintu, dia merayu.

Suaranya sungguh merdu, itu yang paling menyenangkan didengar sambil mengosongkan botol botol.

Dia telah lupa kapan pertama kali mendengar suaranya mengosongkan botol. Glek. Glek. Glek…

Kampung halamannya begitu saja terhampar di depan matanya. Kuning kehijauan, berkabut. Cahaya yang menerobos celah celah dinding bambu. Dia melihat seorang perempuan berbaring di atas dipan hanya beralaskan tikar penuh lubang. Kutu busuk berlarian keluar masuk, semua berperut gendut, berwajah cerah kekenyangan minum darah.

Derit batang batang bambu beberapa langkah dari pintu belakang terdengar lebih gembira*

Senin, 01 Agustus 2011

pada hari minggu

by Dian Aza on Sunday, July 31, 2011 at 5:06pm
Siang teduh memainkan lagu, menjemput nada dari selintas angin baru saja menyentuh keningmu. Betapa manis, betapa manis kubaca isi kepalamu, udara tak menyimpan rahasia, kau baru saja memetik sebatang tebu, berlari lari di pematang ladang, bunyi gemerisik daunnya. Gula  tak pernah berdusta meski larut di segala warna, manis, manis dan hanya manis menari nari di sekujur gelas.

Apa sedang jatuh cinta, dengan siapa, semanis apa, tepian gelas menggoda. Aku tersipu menghirup aromamu. Tak akan kukatakan semua yang kaubaca, aku tahu kaumencurinya. Batang batang tebu tak bisa marah, pasrah melekat di tepi lidah. Hanya di tepi lidah manis selalu terasa. Asal tak tertelan, pahit menunggu di pangkalnya.

Aku suka kau tertawa melihatku mengernyitkan dahi menelan segelas kopi yang kuaduk hanya dengan telunjuk. Butiran manisnya tertinggal berkilauan di dasar gelas, mengenangmu yang rela mencuri tebu demi siang teduh menyanyi untukku, pada hari minggu*

spirit

by Dian Aza on Sunday, July 31, 2011 at 5:00pm
Aku tak pernah melihat sayap sayap tumbuh di punggung maupun mata kakiku. Tapi kurasakan angin mengelus rambut, awan membelai lengan dan wajahku. Aku terbang. Sungguh terbang tanpa kulihat sayap sayapku. Bumi melambai gemulai. Cahaya memercik jernih. Kian tinggi aku terbang di atas hujan. Puncak puncak basah berlintasan di celah awan putih keperakan. Senyummu terbit bersama kilat menyilaukan mata. Senja rekah tertawa matahari berkaca kaca*

segelas kertas

by Dian Aza on Friday, July 29, 2011 at 3:52pm
Dia hanya manusia, dan aku. Dia manusia, dan aku mengira begitu. Kujadikan penghabisan seteguk arak melupakan gelas kosong, kerinduan berlapis kertas emas.

Aku dan dia hanya manusia bosan dalam ketegangan mencari beberapa batang benda yang bisa meledak jika disulut atau dihirup. Akan kupastikan dia manusia ketika kukenakan mahkota kertas emas, terjun ke dalam kawah menggelegak.

Manusia meleleh di hadapan manusia bersorak sorai. Dia hanya manusia tawanya sungguh wangi berjatuhan kertas emas hangus terbakar lebih cepat dari nafas terakhir. Belum sempat satu senyum padam ingin aku berkata sambil menyandarkan kepala,”Tak apa.”

Manusia saling bertukar suara gembira, sepotong dunia dalam kepalanya manusia tertawa tawa mengejar layang layang dikejar bayang bayang, yang riang, seputih awan. Dia hanya manusia, dan aku gelasnya*