Menenggak riak diantara gelombang, rebah dibawah cahaya. Sisik ikan adalah teman bicara yang riang. Kurajut buih jadi canda anakanak nelayan, meluncur dari lubang karang, aku membelai ekor tajam kuda laut. Berputar dalam gelisah ombak. Samudra selalu lindungi aku dari jalan takdir, sungguh satir. Semua segera berakhir dalam sebuah hari ketika arus mengayun tubuhku kearah muara mengisi petak kotakkotak sepi tanpa nada, tanpa gairah. Lalu tajamnya mata itu jadi musuh yang menyayatnyayat tubuhku. Memar aku dihajar pijar api, hingga mengumpal mati. Beku lalu luruh. Sekarang aku macam yatim piatu. Tanpa doa, amanat dan jaga laut, jadilah aku telanjang, menciut. Kian susut masa, pasrah aku terbaring diam, yah akhirnya laut sungguh tinggalkan aku dalam perangkap kubus mungil. Maka hendaknya kau paham bahwa asin peluhku dilidahmu adalah ungkapan getir takdir, terpisahnya hasrat laut dari pelukan hangat jiwaku. Dan alangkah hina diriku kini jadi butirbutir mungil penggoda selera makan.
Duh laut, semoga tak pernah kaulupa tiap tarian kita, meski kini aku hanya serpih yang merintih dalam setiap sedapnya rasa lapar…
Jumat, 10 Desember 2010
buan hati
Aku mencari tatapan bunda di mata anakanak yang lelap dipeluk sepi. Kuhirup bau nafasnya pada uap hangat nasi yang tanak saat pagi membuka mata. Tangantangan lembut terulur dari tempat jauh, senyum merekah dari wajah tanpa nama. Berlintasan bagai kunangkunang mengejar bayang malam. Kini semua telah berlalu, rindu sudah terbungkus rapi, siap dibagi pada setiap hati yang menanti. Akan kusimpan saja semua kenangan senyum dan matamu dalam rahimku, kelak anakanak akan lahir membawa tatapan bunda bersama rajuk manjanya dan manis senyumnya…
pulang
Aroma pinus terbawa angin mengetuk jendela, hantarkan cerita tentang percakapan burungburung. Sering kubertanya pada cuaca, kisah apakah yang digenggam musim hari ini. Sayupsayup kudengar sebuah kisah. Seekor burung pernah terbang terlalu jauh tanpa sadar, mungkin tak ingat jalan pulang, beristirahat di sembarang dahan, bercengkrama dengan sembarang teman. Hingga suatu hari angin bertiup dari arah benar dengan kecepatan tepat, menyentuh paruh si burung yang lupa wajah sarang. Akan terhirup wangi pekat kerinduan, menempel di paruhnya, terhela dalam ke rongga dada, hingga kantongkantong udara dibawah sayapnya penuh kenangan akan rumah yang sempat tersamar. Seketika burung tak lagi peduli yang lain, selain perjalanan pulang yang mesti segera ditempuh. Sayap mengepak, bergegas menapak jejak rindu dilintasan angin. Begitulah kirakira nanti, mimpimu akan pulang kembali dalam tidurku…
cerita
Bintangbintang lelah bercanda, puas bermain, bosan berpencar. Mungkin waktu mengirimkan pesan, bumi mulai terpikat mimpi, pada langit sang kekasih. Maka langit berbenah, mengumpulkan titiktitik berkilau jadi satu berkas terang, agar tak rabun penglihatan bumi, mampu terus membaca dan belajar tentang galaksi. Gumpalan sinar tajam menantang lubang hitam. Kian padat, hangat hingga menyengat. Ufuk timur serona garis senyummu. Entah siapa yang pertama menamainya surya, yang darinya aku mengenal gairah. Pun, kejutan manis dari mendung, gerimis mendayu, sesaat sebelum hujan menyentuh tawa rumput dan bungabunga. Desah embun menggugah. Terbenamlah jenuh. Subuh memeluk jantungku..
Cinta langit begitu sah, legalitas tanpa batas, cahaya menikahi malam, melahirkan fajar…
Cinta langit begitu sah, legalitas tanpa batas, cahaya menikahi malam, melahirkan fajar…
dejavu
Hari ini kantorkantor tutup, menyenangkan sekali. Bisa berjalanjalan dengan baju bebas. Seragam itu buat ku muak. Macam ikan asin berjajar di bawah terik. Serupa. Melinting. Kering. Ciptakan dahaga dilorong lehermu. Agar anakanak anjing bebas keluar masuk sembunyi, hindari maut ditanah dewata. Lelaki membunuh anjing yang dituduh sinting, lalu membeli mantel kulit anjing sebagai hadiah berkelas bagi perempuan sinting. Siang ini panjang, cukup untuk mengeja halamanhalaman buku di resensi koran pagi. Lalu berdebat sejenak dengan seorang demonstran yang turun ke jalan menjajakan permen dan kacang. Langit itu kenapa biru, karena kalau kelabu kita sebut mendung. Aku dengar tawa sahabatku dimasa kecil, rasanya ganjil sekali dulu pernah ada mahluk bernama sama denganku. Dulu saat sebuah tamparan menyelesaikan masalah. Lalu pohon mangga memelukku. Hari apakah itu. Tanggal dan bulan berapa. Di jalan apa. Tak tercatat disurat kabar atau jurnal manapun. Seakan aku bukan penduduk. Loh, apakah lagu itu untukku. Dan segerombolan marching band lewat menggetarkan jalan. Entah darimana kau datang menunggang kuda bersayap. Akhirnya aku bisa pergi. Meninggalkan jalanan, jemuran, tambaktambak, mayatmayat anjing, kulit telur, sepatu dan kaos kaki, seragam, dan segala sajaksajak berserak di aspal. Kulihat seorang gadis kecil dalam pelukan pohon mangga melambaikan tangannya, tibatiba gadis kecil itu berteriak, "pegasus..",merekah senyumnya dalam derai airmata...
perjalanan
Tak peduli pagi, mimpi masih berlari dikejar angan liar beterbangan. Hinggap di jendela flatflat, mencoba mengintip wajah kuyu dan ikanikan di akuarium yang tak pernah lesu berenang mengelilingi dunia sempit berdinding kaca, lupa pada laut. Mendekatlah kata perempuan itu dari balik buku, kepada ruang yang siap melahap sesak dadanya. Lalu dia bangkit menutup buku, melangkah ke beranda, menghirup bau perjalanan kapalkapal terbawa angin ke dalam lipatan tirai. Rindu serasa makin asin di lidah. Rintikrintik hujan mulai mengetuk lengannya, merayu meminta peluk, pernah suatu masa ketika dia tinggal di rumah tak bertangga, tak ada teras juga kebun, ibunya menyuruhnya membeli sekerat ikan di warung. Namun dia tersesat dalam sebuah gang kumuh, dimana ikanikan berenang bebas dalam genangan air dijalan berlubang. Maka diberikannya uangnya pada seorang pemintaminta tua, dan dibawanya genangan air, bersama ikanikannya disitu, ke dalam hatinya. Mimpinya masih serupa, kelak bunda akan singgah melepas penat bersamanya di muara...
keajaiban
Terhimpit gelisah diantara bukitbukit yang bergandengan di tepi bumi. Di lembahnya ada kutemui banyak kisah tentang perjuangan mencari sayap yang hilang sebelah. Aku seringkali berkunjung dipagi buta berkabut, mencari di sela tubuhtubuh raksasa mabuk, sesuatu yang seperti jejakmu. Angan liar berdansa dihampar permadani hijau, diiringi musik klasik dari rusia, meski kedengaran ganjil, tarian itu sangat cantik gemulai. Bunga bermurah hati sepanjang malam mekar, harumkan kamar, tak henti meneteskan madu ditempat tidurku. Ada banyak capung terbang, dengan sayapsayap ringannya, merentang serupa pesawat terbang kertas lipatan kanakkanak di masa yang tak terjangkau risau. Menggema nyanyian ‘ambilkan bulan’ , awan hitam menggumpal padat mencegat fajar. Jangan dulu usai malam ini sebelum puas kujumpai kau dinegeri sunyi, yang tanahnya sehijau kilat zamrud pada cincin diruas jari manis penjaga pintu mimpi..
Langganan:
Postingan (Atom)