Selasa, 22 Februari 2011
menggambar
Baju hangatku berkata, semua akan baikbaik saja, jejak hujan dan wajah bulan yang menggigil di lenganku akan menghangat dan mulai tersenyum, luka tak akan mengering sepanjang musim, tapi lengan dan tungkai belajar memahami perih, menggambar puisi yang tak minta dimengerti matakaki. Kita mulai bisa bicara bahasa angin, memilin rambut dan rumput, membujuk senja kembali mengirimkan warna, meski hanya segurat tak terurai sampai terbenam*
masif
Berjalan di sampingmu, tanpa matahari, hanya sebatang lilin liar menyala, menetes satusatu, melepuhkan langkah. Tak bisa lebih sesat dari sayatan menyilang di dada, cabut jantungku, taruh dalam kotak kayu, kuberi untukmu.
Musim akan dingn dan lapar, bakar kotak kayu, santap jantungku. Aku tak perlu menghitung waktu, tidurlah kau dalam ruang kosong di mana jantungku pernah tinggal. Sambil mencecap gurih darahku, setetes demi setetes, kubunuh resah.
Lelehan lilin menjejak putih, membeku udara, belajar bercakap dengan salju yang jatuh dari alismu, di mana daundaun kering mengubur ingatan*
Musim akan dingn dan lapar, bakar kotak kayu, santap jantungku. Aku tak perlu menghitung waktu, tidurlah kau dalam ruang kosong di mana jantungku pernah tinggal. Sambil mencecap gurih darahku, setetes demi setetes, kubunuh resah.
Lelehan lilin menjejak putih, membeku udara, belajar bercakap dengan salju yang jatuh dari alismu, di mana daundaun kering mengubur ingatan*
saga
Senja, kautanam sebilah pedang, dalam jiwa. Malam, bersemi luka, ranggas, mengalir darah, pedangmu tumbuh teramat rimbun, menebas jantung, hati, paruparu, ginjal dan empedu. Tubuhku kamar jagal, banjir darah. Laut merah, aku berbaring,mengapung diayun gelombang bersama anakanak itik, sapi, alangalang kehilangan akar. Menunggu kau mengirim pemegang tongkat, segera belah laut dalam tubuhku, agar barisan beruang emas menyeberang, menemui fajar, matahari mengintip dari balik ranting*
siak
Kita akan mengulang lagi semua mimpi, dari awal sebelum berakhir, segera tiba di akhir sebelum mata benar terbuka. Sebab kita telah menaklukkan dosa, menggelar sajadah, menelan getah dan kulit pohon sebelum jadi ramuan dan kertas. Penawar maut, sebelum menyebutkan harga sudah pula kausiapkan timbangan, mana lebih berat semangkuk madu atau kapas. Setelah selesai menimbang, burung gagak boleh bermandi madu, lalu menceburkan diri dalam kapas, kalau saja gagak ingin putih, ingin dikira awan, tanpa pesan kematian*
meja hijau
“Kenapa kau berwarna hijau ?” Kursi terdakwa bertanya kepada meja kayu di ruang sidang.
Meja diam sejenak, mencoba mengingat, lalu melonjak berseru,”Hijau mengingatkan pada tanah asalku, belantara, rimbun daun dan semaksemak.”
“Maksudmu ?”
“Hutan rimba. Kau akan dimangsa jika tak memangsa. Yang bertaring dan bercakar yang akan tegar. Yang buas akan kenyang. Yang perkasa berkuasa.”
“Kejam.” Kursi bergetar.
“Bukan aku yang mengecat warna hijau di tubuhku.” Meja membela dirinya.
“Oh, manusia berjubah hitam itukah ?”
“Aku tak tahu, seingatku manusia berbaju kumal. Orangorang berjubah hitam hanya memilih warna, lalu mengupah manusia berbaju kumal untuk mengecatku.”
Meja diam sejenak, mencoba mengingat, lalu melonjak berseru,”Hijau mengingatkan pada tanah asalku, belantara, rimbun daun dan semaksemak.”
“Maksudmu ?”
“Hutan rimba. Kau akan dimangsa jika tak memangsa. Yang bertaring dan bercakar yang akan tegar. Yang buas akan kenyang. Yang perkasa berkuasa.”
“Kejam.” Kursi bergetar.
“Bukan aku yang mengecat warna hijau di tubuhku.” Meja membela dirinya.
“Oh, manusia berjubah hitam itukah ?”
“Aku tak tahu, seingatku manusia berbaju kumal. Orangorang berjubah hitam hanya memilih warna, lalu mengupah manusia berbaju kumal untuk mengecatku.”
pandir
Saat siang begitu gerah oleh resahku kehilanganmu, kubulatkan tekadku untuk mencarimu kemanapun. Aku ingat kau bilang, kau suka ada dalam hatiku. Maka kumohonkan pada segala dewa agar bisa kucari kau di situ, di hatiku.
Tak disangka rupanya, ada dewa sedang baik hati dengarkan pintaku, namun sayangnya dewa ini punya cara pikir aneh dan unik. Aku diberinya sebutir bawang merah, “Inilah hatimu, cari dan temukan apa yang hilang disitu.”
Belum sempat kulontar tanya, sebelum kukata terima kasih, dewa sudah menghilang, bahkan bayangbayangnyapun tak bersisa, lenyap bagai asap ditelan udara.
Aku bengong dengan sebutir bawang merah dalam gengaman , hanya sekian detik, sebelum teringat dengan gembira mungkin kau akan kutemukan segera dalam hatiku yang kini mewujud bawang merah ditanganku. Entah bagaimana nanti, kau akan kutemukan dalam benda sekecil bawang merah. Aku tak mau tahu, Cuma mau cepat temuimu. Itu saja, rindu.
Hanya ada satu cara untuk temukan kau dalam sebutir bawang merah. Melihat yang tersembunyi di balik kulit ari dan apa yang terdiam di tengah umbi. Maka mulailah aku mengupas helai tipis kulit bawang merah, hingga nampak sebutir umbi jernih berwarna ungu pucat, kemerahan dan jernih, ah inikah hatiku, lumayan, tak seburuk yang seringkali kucemaskan, dan warnanya mengingatkanku pada warna kelopak teratai. Namun sayang belum ku temukan kau satelah seluruh kulit terkupas.
Mestinya kau ada di dalam umbi, seperi putri thumbelina meringkuk dalam kuncup bunga. Aku jadi tersenyum membayangkan kau, yang kadang sungguh manja dan sok imut. Jadi bagaimana ini, aku harus mengiris bawang merah jelmaan hatiku ini untuk menemukanmu. Sering terlintas di benakku kenapa kau begitu senang membuatku susah. Kenapa kau tak jadi macam kekasihkekasih lain yang sederhana, tak banyak tingkah, pun tak keras kepala. Tapi segera aku tersenyum kembali saat terlintas dalam pikirku, jika kau sama dengan mereka tentu dalam sekejap aku akan muak dan bosan. Kau sungguh berbeda, dan itulah yang membuatku tergila padamu. Jadi tetap aku harus temukan kau, walau harus kurajang hati bawang merahku.
Maka mulailah aku merajang, dengan alas telenan kayu, pisau paling tajam kesayangan ibuku, tekun kuiris tipistipis butir hatiku. Tibatiba terlintas dalam pikirku, bagaimana jika terpenggal dirimu olehku tanpa sengaja, ah alangkah ngeri. Lalu aku jadi sangat hatihati tiap habis teriris selambar tipis, kuamati dengan cermat umbi kecil hatiku itu. Setelah yakin kau belum tampak sedikitpun baru kulanjutkan mengiris lagi.
Tak terasa telah lebih dari setengah bagian bawang merah teriris tipis, tak ada tanda sama sekali akan keberadaanmu di sana. Sementara mataku telah begitu pedas, berderai airmata, karena rasa pedas, waswas, dan nyaris putus asa. Sepertinya kau takkan bisa kutemukan dalam sebutir bawang merah. Sungguh gila dewa yang tadi menjawab doaku, rupanya sudah dipermainkannya rinduku. Mungkin sekarang dewa itu sedang terbahak melihatku telah termakan permainannya*
Tak disangka rupanya, ada dewa sedang baik hati dengarkan pintaku, namun sayangnya dewa ini punya cara pikir aneh dan unik. Aku diberinya sebutir bawang merah, “Inilah hatimu, cari dan temukan apa yang hilang disitu.”
Belum sempat kulontar tanya, sebelum kukata terima kasih, dewa sudah menghilang, bahkan bayangbayangnyapun tak bersisa, lenyap bagai asap ditelan udara.
Aku bengong dengan sebutir bawang merah dalam gengaman , hanya sekian detik, sebelum teringat dengan gembira mungkin kau akan kutemukan segera dalam hatiku yang kini mewujud bawang merah ditanganku. Entah bagaimana nanti, kau akan kutemukan dalam benda sekecil bawang merah. Aku tak mau tahu, Cuma mau cepat temuimu. Itu saja, rindu.
Hanya ada satu cara untuk temukan kau dalam sebutir bawang merah. Melihat yang tersembunyi di balik kulit ari dan apa yang terdiam di tengah umbi. Maka mulailah aku mengupas helai tipis kulit bawang merah, hingga nampak sebutir umbi jernih berwarna ungu pucat, kemerahan dan jernih, ah inikah hatiku, lumayan, tak seburuk yang seringkali kucemaskan, dan warnanya mengingatkanku pada warna kelopak teratai. Namun sayang belum ku temukan kau satelah seluruh kulit terkupas.
Mestinya kau ada di dalam umbi, seperi putri thumbelina meringkuk dalam kuncup bunga. Aku jadi tersenyum membayangkan kau, yang kadang sungguh manja dan sok imut. Jadi bagaimana ini, aku harus mengiris bawang merah jelmaan hatiku ini untuk menemukanmu. Sering terlintas di benakku kenapa kau begitu senang membuatku susah. Kenapa kau tak jadi macam kekasihkekasih lain yang sederhana, tak banyak tingkah, pun tak keras kepala. Tapi segera aku tersenyum kembali saat terlintas dalam pikirku, jika kau sama dengan mereka tentu dalam sekejap aku akan muak dan bosan. Kau sungguh berbeda, dan itulah yang membuatku tergila padamu. Jadi tetap aku harus temukan kau, walau harus kurajang hati bawang merahku.
Maka mulailah aku merajang, dengan alas telenan kayu, pisau paling tajam kesayangan ibuku, tekun kuiris tipistipis butir hatiku. Tibatiba terlintas dalam pikirku, bagaimana jika terpenggal dirimu olehku tanpa sengaja, ah alangkah ngeri. Lalu aku jadi sangat hatihati tiap habis teriris selambar tipis, kuamati dengan cermat umbi kecil hatiku itu. Setelah yakin kau belum tampak sedikitpun baru kulanjutkan mengiris lagi.
Tak terasa telah lebih dari setengah bagian bawang merah teriris tipis, tak ada tanda sama sekali akan keberadaanmu di sana. Sementara mataku telah begitu pedas, berderai airmata, karena rasa pedas, waswas, dan nyaris putus asa. Sepertinya kau takkan bisa kutemukan dalam sebutir bawang merah. Sungguh gila dewa yang tadi menjawab doaku, rupanya sudah dipermainkannya rinduku. Mungkin sekarang dewa itu sedang terbahak melihatku telah termakan permainannya*
kulit kacang dan sepatu
“Aku sekarang terbuka. Bisa merasakan hujan dan cahaya di bagian dalamku.” Kulit kacang bersuka ria, sesaat setelah bijibiji kacang masuk ke dalam mulut, kulit kacang dilontarkan tangan ke tepi jalan.
“Kau kosong. Kau dibuang dan tak berguna.” Sepasang sepatu menatap kulit kacang, setengah iba, setengah tertawa.
“Jika itu satusatunya cara untuk merasakan hujan dan cahaya.” Kulit kacang menjawab riang.
“Kau bodoh, tak macam kulit pisang, bisa membalas dendam, menghadang langkahlangkah agar terpeleset jatuh. Kau terlalu bodoh dan kecil, takkan mampu menjatuhkan siapapun. Kau hanya akan terinjak, remuk, tak ada yang mengingatmu.” Sepatu berkata lagi, kali ini dengan suara berat.
“Aku tak paham, kenapa kulit pisang tak menikmati hujan dan cahaya lamalama. Tak ada yang berniat menginjaknya. Jika ada yang menginjaknya hingga terjatuh pasti kulit pisang juga hancur. Kurasa tak ada kaki ingin menginjak dengan sengaja.”
“Oh… Tak kusangka kau bodoh sekali, semua kaki suka menginjak. Aku selalu diinjak oleh sepasang kaki, tapi masih mending, aku tak dibuang dan tak dilupakan. Karena aku tak rapuh dan mudah remuk macam kau atau kulit pisang.” Kali ini sepatu berkata sambil mendongak bangga.
Kulit kacang tertawa,”Haha… Kuakui kau memang pintar sepatu, bagaimana kau tahu semua itu. Tadinya kukira kakikaki itu mengajakmu jalanjalan..”
“Kau memang bodoh, hahaha…kau bodoh sekali…” Teriak sepatu. Tapi kulit kacang tak mendengar, kakikaki membawa sepatu berjalan menjauh, menghindari gerimis yang kian lebat. Bunyi hujan terdengar merdu, kulit kacang makin senang, namun tibatiba kulit kacang teringat katakata sepatu.
“Aku memang bodoh, tapi betapa kasihan sepatu itu, tak bisa bebas menikmati hujan, selalu terinjak sepanjang waktu.” Kulit kacang berkata sendiri, tak kepada siapasiapa, mungkin langit mendengar hingga hujan tercurah makin deras*
“Kau kosong. Kau dibuang dan tak berguna.” Sepasang sepatu menatap kulit kacang, setengah iba, setengah tertawa.
“Jika itu satusatunya cara untuk merasakan hujan dan cahaya.” Kulit kacang menjawab riang.
“Kau bodoh, tak macam kulit pisang, bisa membalas dendam, menghadang langkahlangkah agar terpeleset jatuh. Kau terlalu bodoh dan kecil, takkan mampu menjatuhkan siapapun. Kau hanya akan terinjak, remuk, tak ada yang mengingatmu.” Sepatu berkata lagi, kali ini dengan suara berat.
“Aku tak paham, kenapa kulit pisang tak menikmati hujan dan cahaya lamalama. Tak ada yang berniat menginjaknya. Jika ada yang menginjaknya hingga terjatuh pasti kulit pisang juga hancur. Kurasa tak ada kaki ingin menginjak dengan sengaja.”
“Oh… Tak kusangka kau bodoh sekali, semua kaki suka menginjak. Aku selalu diinjak oleh sepasang kaki, tapi masih mending, aku tak dibuang dan tak dilupakan. Karena aku tak rapuh dan mudah remuk macam kau atau kulit pisang.” Kali ini sepatu berkata sambil mendongak bangga.
Kulit kacang tertawa,”Haha… Kuakui kau memang pintar sepatu, bagaimana kau tahu semua itu. Tadinya kukira kakikaki itu mengajakmu jalanjalan..”
“Kau memang bodoh, hahaha…kau bodoh sekali…” Teriak sepatu. Tapi kulit kacang tak mendengar, kakikaki membawa sepatu berjalan menjauh, menghindari gerimis yang kian lebat. Bunyi hujan terdengar merdu, kulit kacang makin senang, namun tibatiba kulit kacang teringat katakata sepatu.
“Aku memang bodoh, tapi betapa kasihan sepatu itu, tak bisa bebas menikmati hujan, selalu terinjak sepanjang waktu.” Kulit kacang berkata sendiri, tak kepada siapasiapa, mungkin langit mendengar hingga hujan tercurah makin deras*
Langganan:
Postingan (Atom)