Jumat, 14 Oktober 2011

rona


Rasanya tak akan pernah usai, daun daun mematangkan diri di dekap matahari. Mereka berkata itu kering dan mati, kataku,”Dia memerah.”
Menggugurkan derap langkah yang diberati tubuh dan kegigihan arah, dia ingin lembut dan ringan, menyentuh rambutmu. Daun daun juga punya rasa, tak akan usai, seperti kita*

Sabtu, 08 Oktober 2011

segenggam tanganmu


Di tanganmu saja, kuletakkan segenggam yang tak pernah menguap.
Tak ada tanda tanda apapun untuk kautemukan namanya, segenggam tak ingin kaukenal.
Segenggam yang sangat nakal. Segenggam yang kekal.

Kau tak akan membuang segenggam tak berdaya, tak berniat meminta apa apa.
Segenggam yang telah menamatkan alkitab, melumatku tidak dengan api, menghanyutkanku tidak serupa air. Segenggam yang tidak bersarang, tak pernah kenyang.
Segenggam yang bersiul, segenggam yang masygul.

Di tanganmu saja, segenggam yang mirip jantungku, lebih liat, lebih hangat, lebih merah, lebih berdarah*

Kamis, 06 Oktober 2011

perempuan yang selalu datang

Perempuan itu datang setiap kali kubutuhkan. Dia bisa muncul dari mana saja, begitu saja, serupa lalat, semut, kecoa, kelelawar, burung gelatik, elang atau merak. Tiba tiba terbang melintas di atas kepala, kadang kadang hinggap di lengan, pundak atau rambutku. Kadang kadang membuatku menatap kagum, menjerit kaget, bergerak mengibaskan lengan atau menggoyangkan kepala dengan tempo cepat. Lalu diam mengamati setiap geraknya, meniup keras mengusirnya, termenung memandangnya. Satu satunya hal paling masuk akal yang mestinya kukerjakan malah selalu kulewatkan, bertanya siapa dia, dari mana datangnya dan kenapa.

Sama seperti semua orang, aku lebih sering tak menyadari kapan dan apa yang sebenarnya kubutuhkan pada suatu saat. Membuat kehadiran perempuan itu semakin tak bisa kuramalkan.

Sosoknya biasa saja, seperti perempuan kebanyakan, bisa tampil berbeda dengan bermacam macam gaya dan dandanan. Seperti serangga juga, lalat, semut dan kecoa adalah keluarga serangga dengan tampilan berbeda. Atau burung, banyak sekali rupa rupa mahluk termasuk jenis burung. Gelatik, berbeda dengan elang, merak malah lebih unik, ketiganya adalah jenis yang sama, burung. Dan masih ada beribu jenis lainnya serangga dan burung di bumi ini.

Perempuan itu pernah hadir dengan dandanan dan gaya busana penuh warna dari yang norak sampai berkelas. Perempuan hebat, ia bisa menjadi babu sekaligus ningrat tanpa kesulitan. Pernah pula muncul hanya dengan memakai jubah putih pendeta atau hanya mengenakan selembar kain putih lebar melilit tubuhnya, mengingatkanku kepada manusia manusia yang sedang menjalankan ibadah di tanah suci.

Dan aku masih hanya menatapnya atau bereaksi tanpa kata dengannya. Bahasa tubuh saja.

Perempuan itu tampaknya tidak keberatan dengan caraku menanggapi kedatangannya. Kupikir kalau ia tak suka tentu tak akan datang lagi di lain waktu. Perempuan itu ternyata masih kembali datang. Dia juga tak berkata kata, hanya bergerak dan melakukan apa saja seperti lazimnya mahluk mahluk lain sesuai wujudnya.

Lebih detilnya kalau lalat, ia terbang berdengung di dekat mulut dan telinga. Kalau semut ia merambat berputar, berkelok atau lurus seolah tahu arah, sesekali mendekati sebuah benda beraroma manis. Kalau kecoa, ia merayap di dinding atau lantai, terbang sejenak dengan getar sayap yang meninggalkan bau apak. Burung burung juga demikian. Gelatik yang terbang pendek dan ringan dari ranting ke ranting, atau dari kawat ke kawat, dari kabel ke kabel manapun yang menghubungkan tiang apa saja. Sebagai elang ia merentangkan anggun sayapnya lebar lebar, melayang tinggi dari awan ke awan. Merak juga demikian, wajar saja berdiri menegakkan leher tinggi tinggi, menatap dengan mata congkak dambil membuka tutup ekornya memamerkan pola dan warna pada bulu bulunya yang berbentuk kipas besar kepunyaan pemilik istana.

Aku gemar memakai hewan hewan sebagai perumpamaan untuk menghindari kesalah pahaman manusia. Khawatir kalau kukatakan perempuan itu serupa nona atau nyonya ini atau itu akan menyebabkan nona atau nyonya yang kumaksud menjadi tersinggung, lebih buruk lagi mungkin terluka hatinya. Tak baik menyinggung, apalagi melukai hati seorang perempuan lain yang tak tahu apa apa. Perempuan lain yang tak ada kaitannya dengan perempuan itu, yang selalu mendatangiku.

Kurasa tak ada yang bisa kuceritakan lagi tentang perempuan itu. Karena tak ada pertukaran kata di antara aku dengannya. Menceritakan sebuah percakapan mungkin melelahkan, tapi menuliskan keheningan aku tak tahu cara yang peling tepat. Aku hanya ingin segenap penghuni bumi tahu pasti aku tak pernah sendirian. Ada yang bersedia datang menemaniku kapanpun kubutuhkan.

Seseorang yang selalu hadir pada saat dibutuhkan adalah perisai terkuat untuk menangkal kegilaan. Itulah hal terpenting yang harus kuingat dan diingat setiap orang. Sekalipun aku menggunakan wujud hewan ketika mencoba menggambarkan sosoknya, ia tetaplah seorang perempuan yang istimewa. Perempuan yang membuatku percaya bahwa dunia tidak seacuh sangkaanku. Selalu ada yang peduli dan mau memberi apa yang kubutuhkan, kedatangan seorang perempuan hebat di waktu dan tempat yang tepat.

Seandainya suatu ketika aku dan perempuan itu akhirnya bertukar kata mungkin aku akan menyapanya dengan sebutan ibu, bunda, emak, mama, mum, mommy, mother, mutter, madre, atau sebutan lain bermakna sama. Tergantung saat itu perempuan itu dan aku sedang bicara menggunakan bahasa mana. Kubayangkan pasti pembicaraan ringan yang menyenangkan akan mengalir lancar. Aku selalu ingin menanyakan satu hal, entah kenapa, aku asal menebak perempuan itu tahu cara membuat empudang*

Minggu, 02 Oktober 2011

lagu wajib

Melupakan lapar dan dahaga, dibangunnya tugu dan prasasti di tiap persimpangan. Tanah air mengerti ucapan kayu dan besi, terus menggali membuang keruh demi keruh di ceruk waktu.Kau mungkin singgah, sempat menimbang, menebak berapa banyak endapan. Tapi ia terus menggali hingga lubangnya lebih tinggi, melebihi tingginya sendiri. Tidak berniat menjawab siapapun, tidak mendengar keluh, tidak menanam ragu.

Ia menggali. Semua harus lewat sini sebelum tiba di sebuah tempat yang layak dipuja. Kau keras kepala, malah bertanya, bagaimana kalau tak ingin pergi, aku menantinya menggosok mata. Sampai semua lampu padam. Cangkul melupakan kaul suci menyuburkan ladang. Suaranya lirih saat bertanya apakah kami semua sudah mengingat teriakan di hari kelahiran. Tak ada keresahan di sana, tak ada ingatan tentang bunyi detak pertama di dalam dada.Lubang di hati ibu lebar dan samar, menampung setiap serpih tanah, memenangkan setiap kekalahan, menelan lelah, lelah dan lelah sepenuh getar*

Sabtu, 01 Oktober 2011

untuk pemilik tangan, mata dan kata kata


Aku dilahirkan telanjang, tanpa pakaian, tanpa perhiasan, tanpa kecantikan.
Ada berapa pasang mata memandangku dengan rasa membuncah.
Mengulurkan tangan, membersihkan lendir dan darah,
menyelimuti dengan kelembutan dan kehangatan.

Pada hari kematianku kelak, ada tangan lain menelanjangiku,  
membersihkan debu, peluh, segala kotoran yang mungkin melekat menjelang ajal.
Tangan yang memandikan, mengurapi, menutupi ketelanjanganku
dengan wangi dan putih.

Tangan tangan lain menggali tanah, Mengangkat sebujur kaku tubuhku.
Mengantarku ke pelukan bumi. Jernih menggenangi matanya.
Menyusupkan harapan di gumpalan lumpur.
Menaburkan doa di antara kelopak bunga.

Aku tertidur di liang kubur tanpa mengingat satu namapun pemilik tangan dan mata dan kata kata. Mereka terhampar luas di sepanjang jalan, terserak atau terinjak, tak patah
menumbuhkan daun daun kecil di segala ranting*

cuma


Aku ingin menangis ketika tidak bersedih. Tertawa di saat tak kutemukan alasan untuk riang gembira. Berlari bukan karena mengejar atau dikejar. Berkata kata bukan agar didengar, menulis tidak karena dibaca. Pergi dan datang hanya untuk diabaikan.

Aku ingin menjadi segala, mengerjakan apa saja dalam kesendirianku. Meyakinkan diriku tentang satu hal abadi, aku rindu mencintaimu sepenuh jiwa. Terus mencintaimu dengan setiap degup jantungku. Tidak hidup selain mencintaimu. TIdak mati demi mencintaimu.

Mencintaimu dengan cinta yang tak menghayati rasa, mengacuhkan makna, tak menghiraukan siapapun, tak peduli apapun. Mencintaimu di atas kenyataan, mencintaimu di dasar impian. Hanya mencintaimu mengapus kesalahan, menutup kebenaran. Meski mengering air mataku, habis nafasku. Mencintaimu sampai tak kenal diriku sendiri. Mencintaimu hingga kehilangan hatiku.

Mencintaimu tanpa gema suara, tiada mengukir jejak langkah. Mencintaimu di luar ruang melewati jaman. Hanya kau dan cinta yang kekal, tak pernah ditemukan, tak bisa dihilangkan. Mencintaimu saja*

mezbah

Sebelum berdendang tembok telah berunding dengan gambar ladang yang terpaku di pinggangnya.Kita akan mengguncang ruang pada saat mereka genting berdebat tentang kebenaran. Cuma kau dan aku memahami keseimbangan tidak dengan meletakkan sekarung kapas dan bulu ayam di sisi berseberangan.
Lelaki melankolis satu satunya aktor yang berbakat memerankan tuhan. Perempuan selamanya pelacur, melacurkan tubuh, melacurkan umur, melacurkan selimut, melacurkan bangkai tikus. Selama masih ada perempuan dunia pasti berlanjut, cuma pelacur tahu benar cara menjadi pecundang. Mencurangi kemenanganpun jadilah. Lelaki melankolis berpesan untuk menyayangi musuhmu. Musuhmu adalah musuhku, segenggam taring merengek manja, meminta tempat di rongga mulut.
Sayang, aku minta satu kecupan yang lebih berharga dari pada sekantong koin logam mulia. Persis kakek moyangku, menjual sahabatnya, harganya lebih mahal, sangat jauh lebih mahal. Berlian sebesar biji matamu pun belum setara membeli kepastian. Pengkhianatan lebih fasih mengajarkan keadilan.

Sudah pasti aku lupa ini yang keberapa kali kuingkari aku telah bangkit dari kematian sebelum mati*