“Kau seperti kurang kerjaan saja, menuliskan banyak kata untuk menjelaskan entah apa. Kalimatkalimatmu memburamkan makna. Mengacaukan bahasa, merusak logika. Kau sebenarnya tergilagila pada siapa, bendabenda langit itu, laut, puncak gunung ? Lalu kenapa matamu tak berkedip menatapku. Lehermu sakit karena terlalu lama menundukkan kepala, matamu basah, perih terlalu lama menatap jidatku ? Kenapa diam, sekarang kuberikan seluruh waktuku untukmu, katakan semua yang sudah kautuliskan itu sebenarnya apa ?”
“Hmm…”
“Hanya itu ?” Airmataku mengalir deras, tak tertahan.
“Maafkan aku, maafkan aku, membuatmu sedih…”
“Aku bahagia, aku malah sangat bahagia…” Kucoba bicara tanpa menelan ingus dan airmata.
Wajahmu jauh lebih manis dibanding kelinci manapun. Aku sangat suka, jatuh hati berkalikali dalam sedetik. “Hanya untuk katakan ‘Hmm…’ padaku kau mau bersusah payah menuliskan segitu banyak kalimatkalimat gila…”
“Hmm…”
Selasa, 22 Februari 2011
diam
Aku mencintaimu, maka kuusir kau dari perutku. Hanya ada satu ruang di situ, remang dindingnya, gamang lantainya. Dengan seribu bayangan tak berhenti menari , bergerak acak macam cuaca di akhir jaman. Pergi saja, sebelum lantai di situ retak, menjatuhkanmu dalam lubang tak berdasar, tentu kau mengerti, tak mau membuatku repot mesti menyuruhmu hatihati selalu. Kubisa menjagamu saat mataku terbuka, tapi aku lebih sering tertidur, menutup mata menemui mimpi yang berdiam dalam gelap. Sekali lagi kuminta, pergilah. Sebelum pahit empedu tersentuh olehmu, tak akan bisa kumaafkan diriku, jika sampai kau kenapakenapa.
Kau diam membatu.
Kutawarkan padamu, kepalaku, baiknya di sana kau berada, jika tak ingin beranjak dari tubuhku. Di kepalaku ada banyak ruang, lebih aman dibanding perut yang kacau. Ada peradaban dan kota di kepala, meski tak sempurna. Ada ruang kerja, ruang makan, ruang bermain, ruang baca dan perpustakaan, bahkan ada sebuah aula di mana kau bisa berlatih sekaligus main sirkus, oh, juga ada kebun binatang dan kolam renang. Kalau kau mau, bisa juga kubangun lapangan futsal atau padang golf dalam kepalaku, untukmu. Kau tahu, mataku sudah menelan seluruh dunia. Kemarilah kau, kepalaku juga selalu terang disinari lampu, perusahaan listrik mengirimkan tagihan ke ruang kerjaku saban bulan. Dengan segala hormat, kuminta kau hijrah dari perut ke kepala.
Kau tertawa.
Sekali lagi kuminta dengan hormat, pindahlah, jangan dalam perut, tempat buruk, suatu ketika di sana juga berbau busuk. Kepalaku saja, kucuci rambutku tiap hari, wangi apel dan stroberi, kau pasti betah, kepala tempat yang lebih masuk akal.
Tak terdengar jawabmu.
Tubuhku menguning, darahku menguning, tak lama kemudian membiru. Kudengar suara sendawa dari dalam perutku, keras dan puas.Kau baru saja menelan hatiku sampai habis. Darahku sekarang berwarna biru. Ruangruang dalam kepalaku bergetar hebat, runtuh satu persatu. Tsunami di sekujur tubuhku. Aku terseret arus, menabrak kursi, rak buku, meja, lemari baju, tiang lampu. Tenggelam dalam, dalam, tak berdasar, tak ada ruang. Sesaat lagi aku pasti hilang.
Kau mendekap erat, aku tenggelam, dalam, tak berdasar.
“Ada saran,” Akhirnya kau berkata.
Aku tak hilang, mendengar, hanya tenggelam.
Diam*
Kau diam membatu.
Kutawarkan padamu, kepalaku, baiknya di sana kau berada, jika tak ingin beranjak dari tubuhku. Di kepalaku ada banyak ruang, lebih aman dibanding perut yang kacau. Ada peradaban dan kota di kepala, meski tak sempurna. Ada ruang kerja, ruang makan, ruang bermain, ruang baca dan perpustakaan, bahkan ada sebuah aula di mana kau bisa berlatih sekaligus main sirkus, oh, juga ada kebun binatang dan kolam renang. Kalau kau mau, bisa juga kubangun lapangan futsal atau padang golf dalam kepalaku, untukmu. Kau tahu, mataku sudah menelan seluruh dunia. Kemarilah kau, kepalaku juga selalu terang disinari lampu, perusahaan listrik mengirimkan tagihan ke ruang kerjaku saban bulan. Dengan segala hormat, kuminta kau hijrah dari perut ke kepala.
Kau tertawa.
Sekali lagi kuminta dengan hormat, pindahlah, jangan dalam perut, tempat buruk, suatu ketika di sana juga berbau busuk. Kepalaku saja, kucuci rambutku tiap hari, wangi apel dan stroberi, kau pasti betah, kepala tempat yang lebih masuk akal.
Tak terdengar jawabmu.
Tubuhku menguning, darahku menguning, tak lama kemudian membiru. Kudengar suara sendawa dari dalam perutku, keras dan puas.Kau baru saja menelan hatiku sampai habis. Darahku sekarang berwarna biru. Ruangruang dalam kepalaku bergetar hebat, runtuh satu persatu. Tsunami di sekujur tubuhku. Aku terseret arus, menabrak kursi, rak buku, meja, lemari baju, tiang lampu. Tenggelam dalam, dalam, tak berdasar, tak ada ruang. Sesaat lagi aku pasti hilang.
Kau mendekap erat, aku tenggelam, dalam, tak berdasar.
“Ada saran,” Akhirnya kau berkata.
Aku tak hilang, mendengar, hanya tenggelam.
Diam*
blantika
Tuhan ada di mata, tuhan ada di kepala, tuhan ada di surga, tuhan ada di neraka, tentu tuhan juga ada di setiap sudut dan lengkung bumi, bukit dan lembah, buah dan sayur, tak ada satu tempatpun terlewat. Di semua tempat kau yang bernama tuhan ada, menganggukangguk menikmati segala yang digerakkan angin, sejukkah tuhan, apakah tuhan punya tubuh, tanganku lancang bertanya. Mataku mencari jawab di rintik gerimis, tuhan jatuh bersama air.
Jadi tuhan ada di mana malam itu, saat mela anjani bernyanyi sambil menari di atas panggung warnawarni, hujan kertas mengguyur deras. Kertas itu bernama uang, seribu rupiah setiap lembarnya, tuhankah yang berkata, rumi, atau lelaki berhidung panjang yang dulu cuma boneka? Ahh, tuhan basah kuyup, tersiram peluh, tapi tuhan pasti masih bisa menganggukangguk, seirama lagu dan getar pinggul.
Ahh…Tuhan memang maha bisa*
Jadi tuhan ada di mana malam itu, saat mela anjani bernyanyi sambil menari di atas panggung warnawarni, hujan kertas mengguyur deras. Kertas itu bernama uang, seribu rupiah setiap lembarnya, tuhankah yang berkata, rumi, atau lelaki berhidung panjang yang dulu cuma boneka? Ahh, tuhan basah kuyup, tersiram peluh, tapi tuhan pasti masih bisa menganggukangguk, seirama lagu dan getar pinggul.
Ahh…Tuhan memang maha bisa*
catatan kaki
Kusembunyikan suaramu di balik tumpukan baju. Kaki menyuruhku melangkah ke tahuntahun asing, jauh, jauh dalam rongga tak di kenal, suarasuara berkata, terus jalan, di bawah cahaya lampu batubatu tertawa. Usia dihitung dengan siasia. Lihat, katakata membelah bulan tanpa belas kasihan, selalu hanya satu sisi menghadap cahaya.
Seperti si bodoh tumbuh dari mangkok bakso, saus dari pepaya busuk mewarnai bibirku, buku pelajaran berkhianat, mengajariku cara mendaur ulang kepalsuan. Tak seperti uang logam dengan tulus menghargai nyanyian. Aku ada di surga, kolong tempat tidur tempat terhormat untuk kotakkotak lapuk, segala benda yang pernah dikoyak hujan. Kenapa begitu sayang, kau diam, seolah tuas besi di perlintasan kereta api, jam dua pagi.
Satu jam lagi untuk satu lamunan tentang sepatu dan majalah baru, seteguk hitam malam, sehembus uap dingin, lalu hidungku akan berhenti mengendus harum tubuhmu sehabis mandi. Kau sedang terburuburu mencari kunci, air menetes dari rambutmu, hujan kecil. Betapa manisnya hujan kecil membasahi sepuluh jari*
Seperti si bodoh tumbuh dari mangkok bakso, saus dari pepaya busuk mewarnai bibirku, buku pelajaran berkhianat, mengajariku cara mendaur ulang kepalsuan. Tak seperti uang logam dengan tulus menghargai nyanyian. Aku ada di surga, kolong tempat tidur tempat terhormat untuk kotakkotak lapuk, segala benda yang pernah dikoyak hujan. Kenapa begitu sayang, kau diam, seolah tuas besi di perlintasan kereta api, jam dua pagi.
Satu jam lagi untuk satu lamunan tentang sepatu dan majalah baru, seteguk hitam malam, sehembus uap dingin, lalu hidungku akan berhenti mengendus harum tubuhmu sehabis mandi. Kau sedang terburuburu mencari kunci, air menetes dari rambutmu, hujan kecil. Betapa manisnya hujan kecil membasahi sepuluh jari*
roket
Hidup seperti lari, anak lakilaki berseru, meloncat dari atas tempat tidur, kakinya menghentak lantai, berdebam keras, mengirim harta karun ke lubang telinga kecil. Kudengar sangkakala di tiap tawanya. Heningku nada, Klilk, klik, sekarang tanpa suara, memerangkap gerak dalam gambar.
Kelak di sebuah hari, kulihat anak lakilaki meloncat dari menara ke punggung naga, terbang seperti maut. anak lakilaki tak kenal ragu, tak tahu takut, mengantarku dalam pusaran badai.
Aku tak bertanya apakah naga atau anak lakilaki yang jatuh cinta*
Kelak di sebuah hari, kulihat anak lakilaki meloncat dari menara ke punggung naga, terbang seperti maut. anak lakilaki tak kenal ragu, tak tahu takut, mengantarku dalam pusaran badai.
Aku tak bertanya apakah naga atau anak lakilaki yang jatuh cinta*
di jantungmu
Kau sering bertanya bagaimana aku bisa menyusup dalam dadamu. Aku tak tahu, aku tak ingat pernah menyusup ke manapun. Hanya saja jantungmu, serupa bukitbukit hijau tak berbatas, di mana aku bisa bebas berlarian, mengejar dan menangkap segala jenis ciptaan menakjubkan, yang tak pernah berhenti berloncatan dan terbang sepanjang waktu*
asal usul
Jika puisi punya ayah dan ibu, tak akan yatim piatu jiwaku. Setiap malam akan membacakan kisah seribu satu malam. seribu satu malam mematahkan krayon dua puluh empat warna, atau lebih banyak yang bisa diberikan satu hari dalam perjalanan pulangpergi antara rumah dan sekolah, antara sekolah dan toko serba ada. Menggotong bukubuku yang tak henti menggerutu.
Ibu akan mencuci rambutku tiap kali aku mengantuk, debudebu di sekujur tubuh membeku, aku berdiri di tengah taman kota, menghapal baitbait buta dari kitab tua. Ayah belikan kaca mata, agar lancar membaca, air mancur menganggukangguk, lehernya terlalu panjang menjulur sampai ke luar angkasa. Harihari selalu pendek bagi yatim piatu, menyenangkan sekaligus mencengangkan, rumput bisa tumbuh dari tembok sekolah, menjadi hutan kecil dengan tujuh orang bajang penggali intan.
Menjinjing tas penuh negeri dongeng kudatangi guru bahasa, bertanya, siapa nenek moyangku. Guru bahasa menatapku bingung, menunggu kububuhkan tanda tanya di akhir kalimatku. Ya, sudahlah, puisi mungkin memang yatim piatu, hanya sederet kalimat dungu berbaris di lapangan, memberi hormat pada bendera. Batubatu menyusun menara, sebatang ilalang menusuk jari kakiku, aku tak terluka, hanya tertidur, tidur teramat panjang, seribu satu malam.
Dalam salah satu mimpi, aku berjumpa burung parkit biru tekun menganyam sarang dari serpihan kertas, bertelur, mengerami telurnya sepanjang hari, memenuhi udara dengan penantian. Entah di mimpi yang keberapa, aku lupa, telutelur burung parkit biru menetaskan ular dengan seribu tanda tanya di sekujur tubuhnya*
Ibu akan mencuci rambutku tiap kali aku mengantuk, debudebu di sekujur tubuh membeku, aku berdiri di tengah taman kota, menghapal baitbait buta dari kitab tua. Ayah belikan kaca mata, agar lancar membaca, air mancur menganggukangguk, lehernya terlalu panjang menjulur sampai ke luar angkasa. Harihari selalu pendek bagi yatim piatu, menyenangkan sekaligus mencengangkan, rumput bisa tumbuh dari tembok sekolah, menjadi hutan kecil dengan tujuh orang bajang penggali intan.
Menjinjing tas penuh negeri dongeng kudatangi guru bahasa, bertanya, siapa nenek moyangku. Guru bahasa menatapku bingung, menunggu kububuhkan tanda tanya di akhir kalimatku. Ya, sudahlah, puisi mungkin memang yatim piatu, hanya sederet kalimat dungu berbaris di lapangan, memberi hormat pada bendera. Batubatu menyusun menara, sebatang ilalang menusuk jari kakiku, aku tak terluka, hanya tertidur, tidur teramat panjang, seribu satu malam.
Dalam salah satu mimpi, aku berjumpa burung parkit biru tekun menganyam sarang dari serpihan kertas, bertelur, mengerami telurnya sepanjang hari, memenuhi udara dengan penantian. Entah di mimpi yang keberapa, aku lupa, telutelur burung parkit biru menetaskan ular dengan seribu tanda tanya di sekujur tubuhnya*
Langganan:
Postingan (Atom)