Selasa, 22 November 2011

kematianku,


Kau menumpang terbang benang layang layangku. Tumbuh sedekat lengan ibu, melindungiku dari kegeraman rumah jagal dan kumuhnya kolong tempat tidurku. Memandikanku dengan air hangat ketika aku pulang terlambat dari pesta dansa pertamaku. Kaubisikkan angka angka yang akan muncul pada dua butir dadu demi kumenangkan boneka beruang besar berjubah sarjana.
Kita semakin dekat dan saling kenal. Seharusnya tak perlu kausebutkan nama dan asal usulmu. Mendadak kau menjadi sosok asing yang dingin, yang kucemaskan hanya bersikap ramah supaya aku mendekat agar kausergap di waktu yang tepat. Kau pasti meminta tebusan sangat tak masuk akal kalau aku ingin kaulepaskan.
Kau dan aku tak bisa bermain bersama lagi. Sungguh. Aku pasti masih akan menjadi teman dekatmu, seandainya tak kaukatakan siapa kau sebenarnya. Aku masih mengenang alangkah seru kaubidikkan kelereng masa kecilku pada kaki robot robotan itu. Kalau saja kau rela menipuku hingga aku tak pernah semakin mengenal dan dekat padamu, mungkin sore ini layang layangku masih merajai angkasa, mematahkan musuh musuhnya sambil meliuk dan memekik panjang*

Senin, 21 November 2011

satu hal

Percayalah, kau tak pernah membuatku bersedih. Tak pernah membuatku menangis. Tak pernah menjadi kerisauan, tak sekalipun mengecewakan, tak pernah kusesalkan. Tidak sedikitpun. Kecuali satu hal, ketika kau menyangka aku kelelahan menemanimu jalan jalan malam hingga tak bisa terbang membangunkan matahari untuk menghangatkanmu besok pagi*

penjaga hati


Gagang sapu tak pernah menyentuh debu, hangat telapak tanganmu saja yang dikenangnya sebagai pekerjaan membersihkan pijakan kakimu. Gagang sapu tidak menyapu, tak menyangkal sebagai sapu.
Lidahku menjilat muntahanmu. Aku tak merasa jorok, tak menyangkal sebagai hambamu, kain sobekan kaosmu telah kubuang bersama isi perutmu.
Jika masih mengendap sebagian ingatanmu tentang penjaga hati*

Minggu, 20 November 2011

amitabha

Kalau kau pernah menulis cerita, meski acak acakkan, tak bagus dan tak sampai selesai, kau akan lebih mengerti perasaan tuhan. Selama ini kukira hanya manusia yang ingin dimengerti perasaan dan isi hatinya atau apapun namanya yang menyesak di dalam sini. Tuhan pasti selalu baik baik saja, menulis cerita memberiku pandangan baru. Tuhan juga sendiri di sana, memandangku dengan mata sendu, tekun mengirim isyarat rindu, sering mengeluh tanpa suara, mengertilah aku, tuhan ingin mengatakannya berulang kali. Sesering bencana, dan aku dengan tak peduli terus mengarang cerita tentang sosok perkasa yang serba bisa, yang tak butuh siapa siapa.

Ini juga karanganku, khayalanku, imajinasiku. Ketika mengerjakannya sebisa mungkin kuacuhkan pengandaian tuhan tidak berkenan. Lagi pula kalau benar tuhan adalah tuhan dan tidak berkenan, pasti dia akan membuatku berhenti berkata kata. Tuhan diam dan aku baik baik saja, tak ada guntur besar, gempa bumi atau tsunami menyerangku saat ini. Beranilah kusimpulkan tuhan tidak keberatan dan baik baik saja dengan apa yang kukerjakan.

Cerita tentang tuhan kerap membosankan, sebab tak ada yang nekad usil menggambarkan tokoh tuhan tak seperti yang lazim dibaca dan didengar sejak dahulu kala. Mungkin bahanku terlalu terbatas, tak membaca banyak cerita heboh yang menyimpang tentang tuhan yang serba maha. Orang orang atheis pasti punya segenap bukti meyakinkan bahwa tuhan konservatif sama sekali tidak penting. Sesungguhnya kaum atheis telah lebih dahulu mengenal tuhan, mempelajarinya baik baik, mencoba memahami hingga mereka menjadi begitu muak dan sia sia. Konon segala yang berlebihan berujung kehancuran, paling tidak kebosanan. Sangat berlebihan berlanjut pada kemuakan ekstrim. Serupa listrik yang digunakan dengan beban daya terlalu berat berakhir dengan ledakan dan putusnya aliran, padam. Mirip itulah kejadiannya, manusia manusia atheis akhirnya menyingkirkan tuhan jauh jauh dari hidupnya setelah berkutat terlampau dekat. Kalau aku berani menafsirkan tuhan sebebasnya, wajar sekali kalau aku juga berani menarik kesimpulan untuk orang orang beragama dan atheis dengan sebebasnya sekaligus, dua duanya berhubungan dan menyangkut sosok tuhan yang kuandaikan selalu berkenan.

Mereka yang relijius selalu menemukan alasan untuk membela tuhan, mereka yang atheis sebaliknya tak pernah kehabisan ide menghujat tuhan. Keduanya adalah kesimpulan tak terdebat tentang eksistensi tuhan. Aku bukan agamis atau atheis, aku cuma mau cari untung dan selamat dunia akhirat. Itupun jika akhirat memang ada, kalau tak ada aku tak akan rugi apapun, setidaknya aku mahluk cerdik, kau mungkin lebih suka mengataiku plin plan dan menjijikkan. Kerjakan saja, kau berhak penuh, setara dengan semua yang pernah dan masih akan kukatakan berulang bahwa akulah satu satunya yang benar. Hahaha…

Gawat, kalau dibaca yang berwenang aku bisa dituduh tak waras, menyebarkan kesesatan, dan apa saja yang intinya membuatku layak jadi tahanan. Kalau itu terjadi di bumi, tuhan tak akan peduli, tak menolong, malah seolah olah lupa aku adalah salah satu ciptaannya, dan hanya bisa mengerjakan segala yang tuhan berkenan. Kalau otoritas atheis yang berkuasa, aku tak tahu apa yang terjadi, sejauh pengalamanku kaum atheis enggan mengusik seseorang yang diduga tak waras, mungkin mereka akan sama sekali tidak peduli, dalam arti tak peduli aku hidup atau mati. Manakah yang agak lebih baik, hukuman atau ketidak pedulian, sama sama menyakitkan untukku yang perasa. Hahaha…Aku bilang aku perasa. Hahaha…

Tak ada yang bisa menilai diri sendiri, dan aku tak perlu pengecualian untukku. Aku tak boleh resah kalau ada yang bilang aku bebal, dungu, kejam, atau apapun yang terburuk. Tak boleh galau meskipun yang bilang adalah diriku sendiri. Tak ada yang obyektif menilai diri sendiri, hahaha…

Aduh kenapa jadi jauh, selalu begini akhirnya aku cuma menulis yang kacau dan tanpa kerangka pikir, istilah orang orang pintar itu. Sekarang waktunya kembali ke topik awal. Jika masih ingin menulis, aku harus menggunakan sepenuhnya kehendak bebasku untuk memilih siapa yang baik dan benar, atau baik tapi salah, atau jahat tapi benar, atau jahat dan salah. Rasanya benar benar menjalankan peran sebagai tuhan. Sebagai tuhan, aku tak butuh pembenaran atau dukungan, tak keberatan melakukan kesalahan dan mengabaikan hujatan. Kurasa hanya orang hebat yang mampu menulis, meskipun tak bagus, acak acakkan, tak tamat, masih boleh kutambahkan kekurangan lainnya yang berdampak luas maupun personal, macam mengubah nilai nilai masyarakat, atau membuatmu cemberut, mengkerut sampai membenciku. Seperti tuhan, sesungguhnya aku merasa berhak menerima senyum dan pujian setiap saat sekalipun ada yang kubuat porak poranda. Kalaupun bukan senyuman atau pujian yang kudapat, seperti tuhan, akupun akan terus berkata kata dan bertindak seolah olah itu hanya kelalaianmu saja. The show must go on. Amitabha*

Sabtu, 19 November 2011

hidayah

Lidah tak bertulang, kata kata tak bernyawa. Semua pepatah lama menjadikan diam itu emas. Diam seribu bahasa, beribu ribu emas. Haruskah manusia menggunakan kalimat kalimat usang untuk memuaskan dan membenarkan kecemasan. Siapa yang tak pernah beranjak dari lidahku, menyuarakan perdebatan dengan kediaman yang aman.

E…mas, seperti sapaan perempuan genit kurang kerjaan. Berkilauan bibirnya merah gincu murahan. Kujadikan dia satu satunya manusia yang layak kumaklumi jika enggan menutup mulutnya, menari nari lidahnya menawarkan kemudahan, kemurahan, keramahan dan segala yang dilupakan pasal pasal undang undang dasar.

Kuseduh sendiri kopiku, kubiarkan dingin, tak kutawari seorang manusia lain yang bermukim di sampingku, atau di dalam kepalaku, volume suaranya selalu keras, tak bisa kulembutkan. Kuharap karena kuacuhkan dan tak kubagi kopi padanya dia akan pergi. Tapi dia tidak pernah pergi, setiap saat menunggu waktu paling tepat mengajakku berdebat. Dengan bahan dan literature yang sama, dengan perumpamaan dan pengandaian yang beragam. Dia memaksaku bertukar pendapat. Membuatku terhina, aku selalu beranggapan pendapatku paling benar tak layak dipertukarkan dengan siapa saja, terlebih dengan sesosok mahluk samar yang terlalu pengecut untuk menjauhiku.

Aku tak pernah tahu kenapa dia tak pernah berhenti mengusikku. Aku merasa tengah memerankan seorang lelaki tampan yang berjalan pulang tengah malam di seruas jalan keramat. Bulu kudukku meremang, aku bukan penakut, tak cukup pengecut sampai perlu berlari meninggalkan yang ada di belakang tubuhku. Aku berbalik dan bicara dengan udara yang kegelapan, kuminta dengan tegas dia tak lagi berjalan di belakangku atau di manapun dekat denganku. Tinggalkan aku sendiri, itulah mauku. Dia diam seribu bahasa, beribu ribu emas seolah disodorkannya padaku, aku tak menerimanya, tapi dia tak beranjak. Dia mungkin terpesona pada parasku yang indah.

Aku merasa payah, membalik badanku ke arah semula dan berjalan kembali dengan leher hangat menembus dingin malam. Resiko orang tampan pikirku, dan pintar, pemberani pula.  Lama kelamaan kurasakan mahluk yang mengikutiku mengajakku bicara, aku tak paham seribu bahasa diamnya, dia terus berceloteh. Mirip pemuja kerasukan roh, aku ingin tertawa kalau saja tidak sedang berjalan bersamanya. Tak akan kubiarkan dia melihatku tertawa, bisa saja dia mengira aku senang atas kehadirannya. Situasinya aneh sekali.

Keanehan selalu menimbulkan sensasi, nikmat yang bikin penat. Naluri kemanusiaanku menang, aku ingin tahu apa saja yang dikatakannya dengan seribu bahasa diamnya. Sambil berjalan dan pura pura tak peduli, kecermati setiap kata katanya. Kucoba memahami kalimatnya, berusaha menafsirkan maknanya. Aku masih ingin tertawa, teringat sekumpulan manusia yang bicara dengan bahasa roh pada sebuah perjamuan kudus. Sesosok mahluk yang menemani perjalannku malam ini membuatku terkenang pada gema gema kalimat di dinding megah dan pilar pilar yang tak kumengerti, mereka berkata kata dengan yakin, suara suara dari bibir manusia yang memberitahuku sedang bicara bahasa roh. Mungkin bibir mereka terbuat dari sepasang gumpalan daging istimewa, itu saja kesimpulan pertamaku, selanjutnya persis macam malam ini, aku hanya bisa sekuat daya menahan tawa.

Langkahku selurus jalan, pikiranku sejernih malam, dua bekal yang lumayan untuk terus berjalan ke manapun tujuanku. Tapi mahluk itu tak berhenti bicara bahasa yang tak kunjung kupahami betapapun kupusatkan konsentrasi, suaranya cuma terdengar bagai raungan penuh huruf yang tersusun tak teratur, membuatku gusar dan makin bertambah besar gusarku pada setiap langkah.

Dugaanku ternyata benar, bahasa diamnya sama sekali bukan emas dan sosoknya mulai terasa menjengkelkan. Kusadari dia membuatku teringat pada perempuan perempuan genit kurang kerjaan yang mengoceh seharian tanpa makna. Tentu saja tak ada siapapun yang tahan berada di dekat seseorang semacam itu dalam waktu lama. Sebentar saja menjadi sangat tak sabar, rasanya berabad abad ocehannya tak pernah redam. Leherku mulai mendidih dan mataku seolah berasap, perih. Aku ingin menendang atau menamparnya sekuat tenaga, hingga dia terjengkang cukup jauh dariku, tak mampu bangkit kembali untuk menguntit perjalananku. Bayangan tentang kenangan bahasa roh memudar, digantikan gambaran gambaran paling buruk tentang makian dan hasrat hebat untuk menyingkir sejauh mungkin darinya yang suaranya kini tak mirip lagi dengan perjamuan kudus ataupun gang gang mesum, suaranya lebih buruk dari apapun juga yang pernah menyapa telingaku.

Aku berharap segera tiba di rumah, berharap selembar pintu bisa memisahkannya dariku. Aku tak ragu pada jalanan yang kutempuh, dan tak ingin menambah kerisauanku dengan kemungkinan aku tersesat. Meski kenyataannya jalan yang kulewati seakan tak berujung dan tujuanku menjauh, sementara mahluk bersuara buruk terus mengoceh di dekatku, menghembuskan udara panas di leherku, memenuhi telinga dan kepalaku dengan suara suara dari bahasa terburuk sepanjang ingatanku.

Bagaimanapun malam pasti berganti pagi, gelap berubah terang. Pergantian hari dan lokasi membuat harapanku menyala, kalau dia bukan seorang manusia mungkin dia takut cahaya, kalau dia manusia dia akan lelah, berhenti berjalan di dekatku hingga aku tak lagi harus mendengar ucapan kacaunya. Dan menghilang begitu saja serupa gelap malam.

Aku mulai mati rasa, atau putus asa, sewaktu dia tak juga pergi pada pagi hari setelah menempuh perjalanan jauh meninggalkan tempat di mana aku mulai menyadari kehadirannya dan pertama kali memintanya meninggalkanku. Aku belum tiba di manapun yang jadi tujuanku. Dia bergeming berjalan di dekatku. Dia pasti bukan manusia karena tak pernah lelah, terus berjalan dan berkata kata dengan bahasanya yang tak terjemahkan pendengaran dan nalarku, aku diam seribu bahasa, mungkin pasrah meskipun tak penat, dan tak lagi nikmat. Perjalanan aneh kali ini serasa tak akan berakhir sampai akhir jaman*

Jumat, 18 November 2011

liberty

Kau benar, kau selalu benar tak ada kesalahan di seluruh semesta.

Seorang manusia tanpa kelamin menatap seonggok sampah dengan mesra, sepertinya dia jatuh cinta pada kekacauan, bau busuk dan getar sayap lalat tak berjeda. Segala yang terbuang pasti berharga, serupa kesalahan yang selalu benar. Segumpal kawat bekas, paku paku berkarat, kepala ikan basi, kulit semangka, biji mangga, terlalu beragam untuk kusebutkan semuanya, kuceritakan kisahnya. Manusia tanpa kelamin memahami daun dan ranting kering yang terselip di sana tak menyesali kematian maupun kehidupan yang ditinggalkan di dahan pohon. Matanya bercahaya, dia mengenalmu sama sepertiku. Terpesona dengung lalat dan waktu dan tangan tangan yang mengumpulkan setiap serakan sejarah, menjadikannya senilai sampah.

Pagi buta, pagi selalu buta di bawah naungan hangat cahaya. Kau satu satunya yang berkata, tak ada kesalahan di seluruh semesta. Kau benar, atau akulah satu satunya kesalahan yang pernah ada*

Kamis, 17 November 2011

bebal

Kuminta ijin untuk terombang ambing selamanya. Gelombangmu terlalu sejuk untuk kuingkari. Kau mengayunku seiring ratusan lagu, mungkin lebih, tak kudengar ketika mataku terpejam.
Jangan biarkan seorangpun penyelamat mendekat. Aku tak ingin disentuh yang lain selain buihmu. Meski asam mengeruhkan mata, tak kurang sejuknya menyentuh lidah.
Aku tahu banyak macam kebodohan, dengan senang hati mau jadi segala macam kebodohan tak termaafkan. Kalau aku gagal, setidaknya aku telah menjadi salah satu kebodohan paling sederhana.. Cukup kepintaranmu untuk kesimbangan seluruh dunia.
Aku hanya mau terus terayun di buaimu, sampai udara kehabisan daya menggerakkan permukaan air yang memenuhi semua cekungan tanah.

Jika tak kauijinkan, aku akan berkeras kepala menenggelamkan diri di laut mati*