Selasa, 20 September 2011

aequo animo


Jarum jarum tumpul menyulam namamu.
Nadiku membiru, darah lupa arah meracuni jantung.
Kau mengarang, kurangkai ruas jalan bukan di atas kertas.

Bangkai tak menumbuhkan duri.
Jari jari mencintai luka di tangkai bunga.

Kautanya, apakah mencintai memahami dirinya sendiri.
Serupa musim semi meretakkan tanah sejernih pualam,
lembab, dataran putih berantakan*

Minggu, 18 September 2011

bingkai

by Phebe Pyre on Sunday, September 18, 2011 at 4:39am
berdiri menjulang seribu kaki menginjak
tanah cuma retak menelan salakan, api, mata palu, abu
langkah terpaku mendekap warisan
setumpuk kematian*

Jumat, 16 September 2011

sisa purnama


Sisa purnama tertinggal di wajahmu berpendar di kala pagi pura pura pongah melupakan malam. Menyejukkan siang terik di kaki para pejalan yang menemui bangunannya menjadi puing. Kota menyerah, lenganmu layak jadi tempat bersandar kepala berasap, kepulan harap terbakar. Mereka membutuhkan setiap bulir dari matamu membasahi retak bibir. Lubang lubang jalan rindu diisi penuh.

Matahari ingin melukis pelangi waktu awan memutih terbang menjauh, angin mengacuhkan gerah. Matahari boleh menangis menyadari tak sepasang matapun mengabaikan lagu lagu bersyair getir yang kautiupkan lewat sebatang bambu. Sebatang bambu bagian dari daun pintu, bingkai jendela, meja makan, kursi goyang, pigura, penopang langkah, kandang ayam, pengiring kawanan bebek menyusuri parit parit berair jernih. Sebatang kokoh dan lentur yang menjelma tongkat sihir kuayunkan untuk kaudatang, menyalakan lagi senandung serangga, suara parau katak bersajak, lengking nyanyian jangkrik nyaring mengoyak sunyi.

Matahari terpana. Malam malam merdu di wajahmu tak terganti pagi*

Kamis, 08 September 2011

jalan ke surga

Siang itu di perempatan jalan kita tertahan lampu merah. Berhenti untuk melihat jelmaan neraka. Sekujur tubuhnya penuh gelembung serupa dosa hampir meletus, luka, nanah, busuk. Di bawah matahari di atas tanah, mengutuk dan menjaga. Seharusnya kita bicara tentang dusta, angka angka, penyakit, perang atau anak kecil yang berjalan tanpa alas kaki menggendong bayi. Anak kecil mengulurkan tangan bayi mengetuk udara ketakutan di samping kita. Tangan kecil pencatat dusta paling besar sungai, air yang menipu mata, membohongi penantian laut. Tak ada lubang di dada kita menyapa arus, buntu dan silau.
Tapi kau satu satunya yang mengerti cara menanyakan jalan ke surga,"Andai aku seperti dia apa kau masih cinta?"
Lampu merah padam, hijau menyala.
Kita pura pura melupakan arah*

Minggu, 04 September 2011

ajaran

Sebatang pohon pernah mengajariku agar tak bisa dipatahkan kalimat kalimat pepatah atau kebijakan masa silam. Kalimat kalimat yang hanya mampu meracuni kepala manusia. Hatiku cuma musim semi tak pernah disinggahi jam dinding atau jam tanganmu, tak pernah di tandai pada peta. Jangan mendekat atau kau akan menyangka diri tersesat di hutan rimba, paling dalam, gelap, lembab juga seram. Lentera yang kaubawa tak cukup terang untuk melihat anak anak tupai belajar meloncat tanpa cemas, burung hantu menyanyikan lagu nina bobo kepada matahari yang baru tumbuh di lereng gunung*

di sini

Di mana menuliskan cinta, cinta usang terkoyak di pasar loak. Di bawah sinar lilin yang menetes di atas meja tua. Di mana lagi tempat cinta redup terbaca, lampu lampu megah menyilaukan mata. Dinding kokoh ingin melubangi dadanya agar mimpi kembang tengah malam menyusup, mengecup mesra mata setengah terbuka. Dengung serangga, lagu buaian bahasa rumput yang telah punah, ragu ragu mendekati telinga. Sayap sayap rapuh menggetarkan pesan. Di sini, tuliskan cinta tak berumah, tak berharga, tak terbaca*  

penawar


Kejujuran sungguh pahit, kutepiskan senyum. Ibu tekun mengaduk,
menyodorkan segelas cairan berwarna keruh ke bibirku.
Hanya di lidah, sabarlah sayang, jantung hati tak menakar rasa.
Mungkin nanti sakitmu segera sembuh jika pahit kautelan habis.
Di dasar gelas butir butir manis terlelap dipeluk hangat ampas*