Senin, 01 Agustus 2011

ibu puisi

by Dian Aza on Thursday, July 28, 2011 at 12:02am
Bagaimana aku bisa menyerah, aku tak punya senjata. Kulihat kauletakkan ujung pedangmu tepat di jantungku. Selembut tetesan embun di pagi pertama aku terbuang dari surga.

Kau berdusta, ini masih surga yang sama, hanya saja kau mengenakan baju zirah, menghunus pedang tepat di saat dadaku terbakar rindu. Kau hendak mengecohku dengan rasa gentar, menetes jernih dari matamu.

Mungkin aku mesti pura pura mati untuk kaulahirkan kembali*

anak anak malam

by Dian Aza on Wednesday, July 27, 2011 at 11:44pm
Malam selalu murah hati berbagi. Tinta dan kertas, alamat dan gambar gambar setengah jadi. Aku berpikir untuk menyelesaikan segenap mimpi sebelum pagi, sebelum seisi kota menemukan macam macam kebutuhan untuk dilekatkan di seluruh dinding kelas. Nama teman temanku tertulis pada buah buahan sebuah pohon papan di depan kelas. Tak ada yang tak masuk sekolah ini hari, semua sehat dan siap mewarnai, meremas remas malam yang melunak, membentuk kelinci, kepala babi, bebek dan bulan sabit, ular adalah yang paling mudah dibuat.

Anak anak suka membentuk ular dari malam lalu berdoa agar ular menjadi nakal dan banyak akal. Ular kuning, ular biru, ular merah, ular hijau, ular ungu, sengaja kuacak warnanya. Ular tak boleh merunutkan warna, bisa bisa anak anak mengiranya pelangi.  Ular warna warni lebih cantik dari pelangi, bisa meliuk liukkan tubuhnya, mengajari anak anak menari. Ular warna warni bersinar di malam hari, tak macam pelangi warnanya padam ditelan malam.

Malam sesungguhnya tidak memangsa siapa siapa, hanya sebarisan marching band dengan formasi berubah setiap saat. Masing masing alat musiknya memainkan lagu dengan nada berbeda, manusia pencinta menyebutnya simponi, manusia penggerutu mengatainya sialan. Waktunya bermimpi ketika ibu guru mulai bercerita, pada suatu hari petani menanam padi kemudian lupa menghitung hari, burung burung dan belalang mematuk sampai kenyang. Istri petani menembak burung burung, anak anak petani melompat lompat menangkap belalang. Malam itu keluarga patani berpesta tanpa nasi.

Anak anak tertawa gembira, ular warna warni bergelantungan di dahan pohon pengetahuan. Masing masing ular mengulurkan buah ranum kepada setiap anak yang mendekat menanyakan nama temannya. Satu nama, satu buah boleh dikunyah. Semua anak gemar bertanya sampai kekenyangan, rebah bergelatakan di bawah pohon. Ular warna warni membulatkan diri membentuk lingkaran untuk bermain sulap. Waktunya berkemas, ibu guru tiba tiba berkata, jangan lupa berdoa sebelum pulang. Kepada malaikat, engkau yang diserahi tuhan, jagalah, lindungailah dan hantarkanlah aku, amin.

Malam kembali menjadi malam, meninggalkan coretan dan gambar gambar setengah jadi*

kolam di matamu

by Dian Aza on Wednesday, July 27, 2011 at 4:25pm
Aku teringat seseorang berjubah putih berkata, seharusnya tak ada kolam di dunia. Ikan ikan menjadi bangkai sia sia di kolam, mengambang di permukaan menunggu tangan manusia menguburkan kematian.

Tak ada yang tahu di mana ikan ikan besar berusia tua meletakkan jasadnya, hanya satu dua terdampar di pantai, selebihnya mungkin membenamkan diri ke jantung samudra, kucoba menjawab sendiri, aku yang tidak bejubah putih.

Betapa ramainya hidup di balik pintu, mondar mandir membawa kabar gembira, pencerahan, pengharapan, pemahaman. Kepalaku menunduk semakin rendah, kupandangi kakiku menyilang bercelana pendek hitam, sepertinya tersesat di keras dan dinginnya lantai. Di lututku ada selembar surat dari ibu. Seperti mengiba perhatianku, seperti tak peduli seandainya kucampakkan ketika bangkit berdiri.

Siang selalu terang dan panjang, tidak menggetarkan, tapi aku sedang rindu membaca sesuatu. Sebenarnya bukan surat ibu. Sebenarnya aku tak tahu. Aku teringat tentang semangkok air putih, jernih dan sejuk yang terbagi. Hanya tentang semangkok air putih yang kubagi denganmu setiap hari, lalu kita mencoba bicara tentang siang dan malam yang terpisah. Tapi kau selalu di sini, sepertiku selalu tak ada selain di sini.

Seharusnya tak ada kolam di dunia, tapi, selalu ada tapi seperti ini. Bukankah percakapan kita selalu lucu. Seharusnya tak ada kolam di matamu yang membuatku tenggelam di situ, mestinya aku berada di samudra, tapi kolam di matamu dan semangkok air putih menjadikan kita sepasang rama rama terbang di pegunungan berabad abad.

Surat dari ibu di lututku menjadi rapuh, kalimat kalimatnya terhapus satu demi satu.  Ibu tuliskan sesuatu untukku, rama rama berbisik di dekat rambutku, kau menyodorkan semangkok air putih untukku. Semangkok air putih dari kolam di matamu di sana aku selalu senang tenggelam. Surat dari ibu terlipat jadi kapal, terapung bergerak gerak seriang kepak sayap rama rama.

Sayup sayup kudengar ombak berdebur di jantungmu*

lebay

by Dian Aza on Tuesday, July 26, 2011 at 12:47am
Di sela deru mesin, debu dan asap jalanan dia melaju membawa tulisan di punggungnya,”Cintamu tak seberat muatanku.” Aku tersenyum sebelum bertanya padanya, mungkinkah dia yang menulisi punggungmu tak memahami kalimatnya sendiri. Ketika menuliskannya apakah dia berpikir punggungmu bisa membaca. Dia terus melaju tanpa menghiraukan tanyaku, terus melaju meninggalkanku. Aku merasa dungu mencoba memanusiakan sebuah truk tua yang menggugat takdirnya*

karnaval

by Dian Aza on Sunday, July 24, 2011 at 2:13am
Kutaruh wajah wajah bermata api di kantong baju, semoga dibakarnya sampai lumat semua angka terselip di sana. Berulang kali kubunuh angka angka selalu bangkit kembali keluar dari peti kaca, semena mena memenuhi kantong bajuku dengan suara gaduh menginjak injak bunga tidurku.

Aku dan sekaleng busa berbagi pahit sepanjang jalan, memunguti wajah wajah bermata api untuk belajar menyulut riang pada bilangan terakhir*

cita cita

by Dian Aza on Sunday, July 24, 2011 at 2:00am
Menjadi sebutir permen adalah kerinduanku untuk dihadiahkan kepada masa kanak kanak asing yang memandangku dari balik pagar kawat berduri, menggerakkan tangan dengan ragu ingin menyentuhku, membuka plastik pembungkusku, membawaku pada hangat bibir dan lembut lidahnya*

pojok dunia

by Dian Aza on Sunday, July 24, 2011 at 1:56am
Di pojok dunia saja tanah masih terlalu lembab, pohon pohon terlalu rapat berdiri. Manusia kecil membesarkan anak anaknya, bermain , saling mengejar dan bersembunyi.

Di pojok dunia aku kembali dihisap sunyi. Kembang musim semi keras hati menggenggam mendung, aku tersandung berkali kali, terus berlari menginjak duri.

Manusia mendirikan menara kasat mata di pojok pojok dunia, bertukar cerita dengan paduan suara yang datang dan pergi. Keluar masuk di dadanya sendiri kulihat kaca dengan pongah berkata, aku melihat segalanya sebelum pecah.

Aku menunggu malam untuk pulang ke pojok dunia menemui anak anak manusia menanam biji matanya sendiri*