Rabu, 05 Januari 2011

tanah basah

nadiku
menadah
nadamu
menata kata
memeta kota
mematah cinta
muntah airmata
tanah basah*

hanya puisi

Sebaris perih, mengeluh kepada puisi, suaranya mirip seekor anak kambing baru lahir, belum juga bisa berdiri, ringkih, takut kehilangan induknya. Kenapa hanya manusia yang bisa didengar isaknya. Bulan tak ada. Bintang tak ada. Jalan dan jembatan berdiri sendiri, memandang malam berwajah muram dari balik mendung. Lampu berusaha menghibur. Tapi, hanya kepada puisi hati boleh merintih*

taman bermain

Kau sedang bermain, anakku sedang bernain, menjadi ‘giant’. Menyusun barangbarang di atas rak. Kipas angin dalam kotak, alat penanak nasi dalam kotak, kapas, pengering rambut, pencuci rambut, pelembut baju, seperti menulis dangan kalimat bersilang, maksudku sunggugsungguh bersilang, dari kiri ke kanan, dari kanan ke kiri, dari sudut ke sudut dengan kemiringan beragam, tegak lurus, condong, aku takjub, begitu banyak garis terhubung.

Sejak dulu aku tak suka mengingat rumus, itu pekerjaan sederhana, beruangpun bisa bersepeda jika diajari dengan benar, dengan sedikit hukuman dan banyak pujian. Tapi aku lebih suka beruang berjalan mondarmandir dengan pantatnya yang bulat dan moncong yang bergerakgerak, naik sepeda bukan kodrat seekor beruang. Seperti jenasah, seharusnya tak butuh rumah.

Semua toh hanya mainmain, jangan terlalu risau, selama belum dewasa, belum tahu mengirangira skala gempa, biar saja terus bermain. Semua diciptakan untuk bersenangsenang, kan. Aku memesan segelas kopi dari dapurku, tapi gulanya habis. Masih banyak gula dijual di warung. Warung sungguhan, dengan tirai barang bergantungan. Bumbubumbu dan semua yang harum jika dituang. Inikah bayangbayang.

Sebentar lagi tengah hari, bayangbayang memendek, matahari tegak. Alunalun berselimut sajadah. Aku tak menjadi apaapa. Kau sedang butuh teman bicara. Aku nyaris tak percaya, di siang hari yang terang kau kehilangan selera untuk bermainmain. Kalau boleh menebak, kau ingin bermain di rambutku saat ini. Rambutku yang sedang sembunyi, kau bilang semua yang tak nampak tak bisa diduga. Seperti nafas, terlalu luas. Elevator itu tak menyala, tak bisa membawaku ke tingkat dua. Maukah kau menggendongku, di punggung saja, macam anak kera. Supaya layak meminta hutan. Aku selalu sedih melihat kera di dekat muara, terikat. Apa sih yang ditakutkan dari seekor kera.

Ayolah, bermain lagi, mumpung bayangbayang sedang menunduk, terikat tubuh. Aku bisa bermain lebih bebas, tanpa dibayangi bayangbayang. Roti keju itu, biar untuk tikus putihku saja, tikus itu pasti kesepian dan lapar, seharian menungguku pulang sekolah. Tikus putihku dan aku, akan bermain bersamamu, berkejaran di antara kakikaki yang berbaris di depan mesjid, berlarilari di bawah bayang yang satu ke bayang yang lain. Rumah baru itu sudah terkirim, dengan tiga peti uang emas. Betapa senangnya dia yang menerima, masih bisa bermain bersama, menonton televisi, menenggak bir dingin. Kau yang mengajariku bermain, aku tak bisa berhenti, tak bisa mati.

Aku mendengarmu memanggilmanggil, sebentar lagi, waktunya bermain lagi, aku tak ingin bertanya, kapan saatnya aku harus mengenalmu sungguhsungguh, setelah semua permainan usai. Tapi tak ada yang selesai, belum selesai. Permainan itu terlalu mencintaiku untuk mau berlalu. Maafkan aku, guru*


que cette

Kau darah, mengalir terlalu deras, jantungku terbenam. Aku harus cepat meruncingkan kuku, merobek dada, sebelum jantungku kehabisan udara. Kau terus menderas, pisauku kurang tajam. Tak boleh merobek dada dengan benda, dosa. Seharusnya tubuh saling menjaga. Mata menjaga wajah, tangan menjaga dada, kaki menjaga paha. Hahh! Kau memang pintar bicara, aku suka mendengar bualan, pasangan sempurna. Aku menyerah, jantungku kalah.  Hari ini, kau ingin maut mengenalku, seperti kau mencintaiku. Kau ingin aku menaklukkan hidup. Hanya itu, atau masih ada lagi. Aku menulis hanya dengan jari*

sssttt

Sabarlah sayang, aku masih bermain dangan balokbalok kayu dalam mataku. Kubangunkan sebuah negeri untukmu di situ. Semua dinding rumah di sana lembut dan tembus pandang, tak perlu dipasangi lukisan. Kelinci dan pinguin beterbangan, kita berpacu menunggang kuda laut, melintasi lembahlembah berumput awan.

Sabarlah sayang, hampir kuselesaikan kerjaku, tinggal membuat salju, untuk membekukan waktu*

kota merpati

Di depan gerbang sekolah tumbuh sebuah kota. Hanya anakanak di bawah umur yang bisa melihat, datang dan menghuninya.  Gedunggedung, kantor, bank, rumah ibadah, semuanya ada, layaknya sebuah kota, juga ada gedunggedung sekolah. Anakanak bebas keluar masuk gedung manapun yang mereka inginkan. Kebun binatang dan musium juga ada, tanpa loket tempat menjual tiket, semuanya masuk keluar sesuka hati. Pasar malam tak pernah tidur, lampulampu menyala sepanjang hari, warnawarni. Toko swalayan di kota itu buka seharian, tak ada barcode dan label harga pada semua barang, tentu saja tak ada pula meja kasir dan mesin penghitung. Tak ada siapasiapa. Hanya burungburung merpati beterbangan dan hinggap di manamana.

Semua anak suka sekali berkunjung ke kota di depan sekolah itu, ingin bersekolah di sana saja, kabarnya sekolah di sana juga tak perlu bayar dan tak perlu beli buku, pensil dan krayon bisa didapat cumacuma. Anakanak sering bercerita pada ibu dan ayah mereka tentang kota di depan gerbang sekolah, sungguh sayang tak ada seorangpun yang percaya, hanya mata anakanak yang bisa melihat di mana gerbang kota berada, tepat di depan gerbang sekolah, sedikit di sebelah kanan gerbang sekolah. Selain bisa melihat, anakanak juga bebas mengunjunginya setiap saat, hanya ada satu syarat, masih di bawah umur*

grace

Botolbotol tak pernah bertanya kemana isinya mengalir. Bibir menggumam, mencampakkan botol kepada lantai. Berderai, lantai menumbuhkan duri. Telapak kaki luka. Sapuku semalam dicuri burung hantu penjaga kebun anggur. Seharusnya dia tidur siang, matanya buta oleh cahaya. Botolbotol tak punya mata, tak tahu siapa yang mengosongkan perutnya. Lantai berteriakteriak kepada kaki, menyuruh hatihati, jangan sampai darah mencemari bening pecahan botol.  Teriakan lantai membangunkan burung hantu. Burung hantu menghardik lantai, melemparkan katakata sampah pada bercak darah. Mendengar ributribut, manusia di sudut terbangun, menggosok matanya, dia melihat kakinya terikat benang marah, seperti  perempuan timur jaman dulu, sangat jauh. Hujan musim semi membasuh wajahnya yang merah muda*