Sabtu, 14 Mei 2011

main matahari

main matahari

by Dian Aza on Thursday, March 24, 2011 at 11:34am

Apa yang dipikirkan matahari, mau terus melototkan mata ke arah bumi. Tahukah matahari, panasnya bikin bumi mendidih, menerbangkan air ke udara. Dari menit ke menit, lapis ke lapis, semakin padat menggumpal. Menghalangi pandang.

Cahaya makan tuan, pandang matahari terhalang awan. Tak hilang akal, matahari merayu air yang mengeras, mendekatlah, mendekat untuk dilumat, pecah awan. Bumi basah, mendongakkan wajah. Ah matahari, matahari, bumi memanggil.

Matahari tersenyum kembali. Apa yang dipikirkan bumi, memandang langit warnawarni, ayolah, kita main mata lagi, berkalikali setiap hari*

untitled

untitled

by Dian Aza on Wednesday, March 23, 2011 at 4:38pm

Aku ingin menemuimu, tapi kausembunyi dalam hatiku. Aku tak tahu bagaimana kau bisa masuk ke situ, sedangkan aku tak pernah membukakan pintu untukmu.  Bahkan aku tak berani memasuki tempat itu, hatiku sendiri.  Aku sungguh-sungguh waktu kubilang akan kudatangi seluruh pelosok bumi untuk mencarimu. Pasti akan kutemukan kau sekalipun kau berada di dasar palung terdalam, di puncak gunung tertinggi, dalam kawah gunung berapi, dalam inti bumi, juga di bulan atau bintang-bintang. Di neraka atau surgapun tak ada bedanya, pasti akan kutemui kau.

Bagaimana kau tahu satusatunya tempat yang tak pernah kudatangi adalah hatiku sendiri. Aku tak cukup punya nyali. Aku bisa membaca dan melihar seisi dunia dan alam semesta dengan mataku, dari buku-buku, layar kaca, dan monitor komputerku. Neraka dan surga tertulis dengan detil pada ayat-ayat kitab suci, tak sedikit pula seniman mencoba merupakannya ke dalam karya, kata, gambar dan warna. Sedangkan apa yang berada dalam hatiku, tak ada yang tahu, tak ada yang bisa dengan jelas mengatakan macam apa ruang pada sebuah tempat tak berwujud dalam diriku yang bernama hati. Aku takut pada segala yang tak kutahu, meski itu adalah bagian diriku sendiri. Sejak dulu mereka berkata, dalamnya laut bisa diduga, dalamnya hati siapa tahu.

Di sanalah kau berada, di dalam hatiku. Aku hanya bisa menunggumu, suatu ketika kau mungkin akan keluar, menceritakan padaku apa saja yang kautemui, lihat dan dengar di dalam hatiku. Benarkah di sana ada bukit hijau dan teduh yang sering kulihat dalam mimpiku ketika kita bertemu ? Adakah di sana sebuah ngarai dengan air terjun deras, memercik pelangi di dinding udara, atau sungai beriak jernih ? Mungkin sebuah pantai landai berpasir putih, atau sebuah gunung berapi, lembah dan jurang bersemak yang dasarnya tak terlihat, padang rumput atau gurun pasir ? Adakah telaga biru kehijauan dengan angsa-angsanya ? Maaf, aku hanya menebak asal-asalan, hanya mencoba mereka-reka  segala yang kusukai dan kuingini berada di dalam hatiku, di mana kau berada, semua yang mungkin membuatmu tersenyum senang setiap saat. Kuharap kau tak pernah kekurangan suatu apa selama berdiam di dalamnya, kukatakn berulang kali.

Kukatakan, dengan sepenuh hati, tanpa tahu apa saja yang memenuhi hati, sebanyak apakah bila hati itu penuh. Kaulah yang mungkin bisa menjawab semua tanyaku, kau yang diam-diam memasuki hatiku dan tinggal di situ sepanjang waktu*  

ah, sudahlah

ah, sudahlah

by Dian Aza on Tuesday, March 22, 2011 at 12:16am

Botolbotol tak pernah haus, aku memindahkan semua telaga dalam kepala. Kurakura terbang menembus awan kelabu, mengusung laut di punggungnya. Bisu. Biru. selalu terantuk di menit yang sama, aku jatuh di jerat rambutmu. Bicara tentang kesadaran yang tak juga padam. Aku kan hanya anak perempuan meja yang berkalikali patah, tapi tangantangan di bawahnya mengepal, tegar berkata, hajar, hajar.

Mereka bertanya berapa umurku untuk setiap botol yang kubawa pulang. Peduli setan, tahu apa mereka tentang lumut dalam kepalaku, telah melembutkan berapa batu, masih terus tumbuh, hijau, berkilau, darinya aku belajar mengigau. Baju seragam berkata tak sabar, bayar, bayar. Kulemparkan sekantong pecahan kaca di wajahnya.

Jangan pernah berkata aku tak tahu jalan pulang, kini aku pemilik semua lorong. Dan gema suara itu, akan kitunggu sampai membiru, mencair dalam botol, sebelum kutelan, aku harus mengeringkan lumpur di lengan malam sebelum rebah. Kau masih punya berapa nada, botolbotol masih ingin berdansa. Anakanak datang membawa senapan, tembak, tembak. Timahtimah melesat, menabrak tembok, mendarat di dada meja.

Jalan pulang sudah datang, mari bersulang*

anak kelinci atau bidadari

anak kelinci atau bidadari

by Dian Aza on Monday, March 21, 2011 at 10:46pm

Siapakah yang menyimpan awan di waktu malam, katakan padaku, apa teman-temanku di sana tak takut gelap, tak ingin bertemu denganku, tak menyampaikan pesan, menitipkan salam, atau mungkin mereka semua sudah tidur nyenyak, bermimpi tentang bukit hijau di mana kita biasa berbaring dekat, menggigit batang ilalang.

Anak-anak kucingku berguling-guling, bercanda di atas selimut biru, mengingatkanku pada hari cerah ketika kau berjalan di sisiku, berdebat tentang anak-anak kelinci terbang di atas sayap elang. Kau berkeras mereka bukan anak kelinci, tapi bidadari yang sedang cemburu padaku*

sejenak memilih waktu

sejenak memilih waktu

by Dian Aza on Monday, March 21, 2011 at 10:12pm

Berada di dalam sebuah toko jam, dia seperti punya begitu banyak waktu. Seluruh dinding dan atalase dipenuhi angka dan jarum, terkurung di balik kaca, seakan-akan bisa diejeknya. Di dalam toko jam,dia bebas menggerakkan mata ke segala arah yang dikehendakinya, seakan-akan berkuasa menentukan peristiwa. Bahkan tak perlu memalingkan wajah, tak perlu menggerakkan otot lehernya, apalagi membalikkan badan, cukup hanya menggeser sedikit bola mata dalam tulang wajahnya dia seperti bisa berpindah tempat.

Bukan tempat yang merisaukan, tapi waktu. Tempat bisa dilihat setiap saat, bisa diinjak, didekati, dijauhi. Tapi waktu tak pernah menampakkan bentuk, bagaimana bisa menaklukkan sesuatu yang tak nampak. kecuali pada benda bernama jam.

Jam tangannya cuma satu, pun sudah sangat tua dan tak bisa diandalkan untuk selalu menunjukkan waktu denga tepat, namun selalu berhasil memerintahkan ini-itu kepadanya. Ketiga jarum dalam lingkaran berdinding kaca itu seolah-olah sungguh-sungguh mengikat lengannya. Serupa borgol, membelenggu langkahnya, selalu semena-mena memilih kejadian, tempat dan orang-orang yang harus ditemuinya, seperti atasan, sipir penjara, atau raja, perintahnya tak bisa ditawar, selalu berseru, segera !

Suatu hari segalanya berjalan begitu kacau, dia merasa sangat muak. Dengan amarah dan dendam yang meluap dia mencopot jam tangannya, menginjak-injaknya hingga remuk tak berbentuk. Sesaat kemudian dia menghela nafas, dengan rasa hampa dia membereskan puing-puing jam tangannya yang berserakan. Dadanya terasa begitu sesak ketika menatap serpihan jam tangan yang biasanya selalu setia melingkari lengannya. Dia ingin meminta maaf, tapi dia merasa itu akan membuatnya bertambah buruk. Pelan-pelan dia terus membersihkan lantai.

Ternyata menghancurkan jam tangan sama sekali tak sama dengan mengalahkan waktu. Tak ada yang berubah, justru keadaannya semakin parah dan merepotkan. Setiap kali dia terpaksa mencari-cari jam dinding untuk mengetahui waktu. Hal itu nyaris membuat kepalanya pecah. Untuk apa menghancurkan jam tangannya jika akhirnya dia malah harus bersusah payah mencari jam yang lain, yang tergantung di dinding atau tegak di atas meja.

Seperti prajurit berpangkat rendah yang harus selalu taat perintah, seperti anak-anak sekolah, seperti buruh, yang terburuk dia merasa macam tahanan, dia merasa harus selalu melapor, bertanya dan tunduk dengan angka-angka dan tiga jarum beda ukuran yang terkurung di balik kaca. Dia merasa tak ada yang lebih buruk dari pada nasibnya yang malang, menjadi budak waktu, seandainya manusia tak pernah menemukan alat yang bernama jam, alangkah baiknya, begitu dia sering bergumam dengan sangat gelisah, marah, juga lelah dan putus asa.

Akhirnya dia menyerah. Bagaimanapun mempunyai jam tangan lebih memudahkan hidupnya, meringankan kerjanya, tidak melelahkan pula, meski dia akan merasa muak hingga ingin meledak setiap kali melihat waktu yang melingkar di pergelangan tangannya. Akal sehatnya memutuskan, memiliki jam tangan tetap lebih praktis ketimbang harus selalu mencari-cari jam dinding setiap kali dia hendak memulai atau menyelesaikan suatu pekerjaan.

Malam ini, dia memaksa kakinya melangkah menuju ke sebuah toko jam, dia berniat membeli sebuah jam tangan baru, pengganti jam tangannya yang dulu pernah diinjaknya sampai remuk, lalu dibuangnya ke tempat sampah. Maka di sinilah dia berada, di dalam sebuah toko jam paling besar di kota. Berpuluhpuluh, atau bahkan mungkin hingga ratusan jam beregantungan di seluruh ruang, dalam etalase juga terdapat banyak sekali jam meja dan jam tangan, aneka ukuran, model dan warna. Tiba-tiba terlihat olehnya letak jarum-jarum dalam banyak jam juga menunjuk ke arah berbeda, menunjuk ke angka-angka berbeda. Berarti menandai waktu berbeda pula. Dia tiba-tiba merasa gembira, memindah-mindahkan pandangannya ke setiap waktu yang ada dalam ruangan itu, matanya bergerak lincah.

Penjaga toko memandangnya, tersenyum ramah, sedikit menggangguk, dia balas tersenyum dan mengangguk. Kemudian melanjutkan keasyikannya memilih waktu yang ingin dipandanginya.

Jam empat pagi, dia merenggangkan otot lengan dan punggungnya seperti seekor kucing, menarik selimut, dan kembali memejamkan matanya dengan puas. Jam enam lebih tiga puluh menit, dia menikmati sarapannya, tenang dan nikmat, tak perlu tergesa-gesa seperti biasanya, dia masih punya cukup banyak waktu sebelum terlambat berangkat bekerja. Jam setengah satu siang, pekerjaannya sudah beres semua, dia menikmati makan siang dengan santai. Jam lima sore, dia bersiap meninggalkan ruang kerjanya, dia berencana akan mampir membeli makan malam lezat untuk merayakan harinya yang menyenangkan. Jam delapan malam dia sudah duduk di sofanya, bersih, hangat dan kenyang, bersiap menonton sesuatu yang menyenangkan di layar kaca, dan dia masih punya beberapa kaleng minuman dan makanan ringan yang akan membuat perasaannya semakin nyaman.

“Maaf, bisa saya bantu ?” Suara itu mengganggu, dia sedang mengunyah kripik sambil menikmati film favoritnya.

“Maaf mas, ingin mencari jam dinding, atau… ingin model atau merk yang bagaimana ?” Suara itu lagi. Dia terpaksa mengalihkan pandangan dari jam sembilan malam paling menyenangkan yang pernah ada dalam hidupnya.

Jalanan sudah sepi, hampir semua toko sudah menutup pintu*

tanya pagi pada mimpi

tanya pagi pada mimpi

by Dian Aza on Monday, March 21, 2011 at 7:19pm

Di manakah rumahmu. Sekali-sekali aku ingin mengunjungimu, bukannya menunggumu mengendap-endap datang di saat aku terlelap. Kusangka kau tak perlu begitu pengecut, apa yang ada di pikirmu kalau kau mendatangiku saat aku terjaga, kau takut aku akan menepiskanmu, atau justru beranjak meninggalkanmu. Katakan saja apa yang bikin kau hanya berani menghampiriku diam-diam dalam gelap. Kenapa kausembunyikan rahasia yang sudah kuberikan padamu tanpa syarat dan cuma-cuma.

Percayalah, akan kusimpan dan kujaga sepenuh hati semua tempat yang tak ingin kautunjukkan pada terang*

pesan dari neraka

pesan dari neraka

by Dian Aza on Monday, March 21, 2011 at 8:14am

Kau tahu apa yang ingin kusembunyikan darimu, kebahagiaan. Kebahagiaan seperti bajubaju tua membunuh kedalaman laut. Kita sedang berpesta di kebun anggur, meminum tuak yang terbuat dari liur serigala, supaya ikut mahir menjulurkan lidah, tak melulu tertawa. Terlalu banyak tawa di udara, hingga mengering rongga mulut. Belum juga temukan racun ampuh pembunuh tuhan. Dari semula aku cuma ingin mewarisi surga.

Menyembunyikan kebahagiaan itu bijaksana. Garagara melihat kebahagiaamu aku menderita, cemburu, terluka, membual, ingin sekali menguliti tubuhmu untuk membuktikan kebahagiaan itu palsu, cuma di lapisan luar luka. Di balik bola matamu, aku yakin akan kutemukan telaga yang sama persis merahnys dengan darah binatang di rumah jagal, menggelitik jamari dengan pengkhianatan. Purapura dipelihara dengan sayang untuk dimakan.

Bayibayi manusia terlahir dengan menangis, atau sejak lahir manusia sudah pandai berdusta, berlagak sedih melihat dunia.

Kalau kau masih keras kepala, ingin melihatku bahagia, gali saja makammu sendiri dengan lenganlenganku yang sudah kaupenggal. Kuburkan kepalakepala binatang di dalamnya bersama kaum miskin, manusiamanusia lanjut usia, dan perempuanperempuan yang gemar bermesra di kuburan. Biarkan aku belajar berperang tanpa lengan, membunuhmu dengan taringku yang tumpul, agar banyak waktuku membisikkan doa, sampai telingamu berdarah.

Kebahagiaan juga berwarna merah, asin, kental, menetes dari patahan lenganku mewarnai pundakmu, nyala*