Kamis, 21 April 2011

kabar angin

kabar angin

by Dian Aza on Sunday, March 13, 2011 at 12:45pm
Lembah adalah setumpuk resah

menggali tanah basah

cekung dan dalam, menanti

kembali air kepada tanah

menjadi mata  yang tak lelah

menampung luka*

benih mimpi

benih mimpi

by Dian Aza on Sunday, March 13, 2011 at 11:52am
Hujan menangkar dingin di pundakmu, kupetik satusatu, kutanam kembali di dada bumi. Kelak pohon tumbuh tinggi meneduhkan terik hari. Dan lolongan angin menjadi pengingat hangat yang kautinggalkan di musim tak bernama, milik kita*

catatan kaki

catatan kaki

by Dian Aza on Sunday, March 13, 2011 at 11:47am
Di tikungan jalan kita saling menyapa, samasama menjadi pintu atau arah bagi hujan menemukan rumah.  Lalu kita berpisah arah, menyembunyikan wajah berkilau basah. Serupa genangan di lubang jalan berbeda, berhasrat menerbitkan pelangi untuk banyak mata kaki, dengan warna biru, ungu, hitam dari gigil dan beku waktu yang tak tentu*

riwayat sayap

riwayat sayap

by Dian Aza on Sunday, March 13, 2011 at 12:40am
Aku bukan anak siapasiapa, hanya jejak langkah yang ingin ditinggalkan para peziarah di gerbang surga. Batu yang bisa menangis tertusuk debu, embun keras kepala di tangkai bunga, aku berpegang. Mematahkan sejengkal demi sejengkal waktu di leher ulat yang tak bersekat.

Bunda bilang aku bukan anak siapasiapa ketika ayah mulai menguburkan kepalanya dalam jambangan bunga*

pusaran lapar

pusaran lapar

by Dian Aza on Thursday, March 10, 2011 at 9:19pm

Ya tuhan, lelehkan kursiku, mencair, menjadi laut berkadar garam paling tinggi, mereka menamainya laut mati, di riaknya aku bisa mengapung, bersenandung sambil  mencoretcoret kabut. Maukah kautiriskan juga gumpal awan, hingga kering, setipis kertas untukku menggambar.

Kuasah tajam ujung rambutku menusuk telunjuk, biar mengalir merah sekental amarah. Kugambar paruh angsa, terbang di selembar putih, menuju matahari, terbenam di mataku yang tak peduli.

Setelahnya kau boleh mengirimkan panas paling menyengat, menguapkan setiap butir air, tinggal tubuhku bersama setumpuk kristal gurih, mengawetkan mimpi ikan tentang penggorengan. Menjadi santapan bibirbibir pucat sehabis menyerahkan warnanya pada paruh angsa.

Ah tuhan, kau boleh tertawa, betapa muluk doaku, cuma demi sepotong ikan peda di meja makan yang pernah kulalaikan ketika aku terlalu sibuk bermain kata, atas nama cinta*

di jalan awan

di jalan awan

by Dian Aza on Monday, March 7, 2011 at 9:58pm
Angin berwarna warni kulihat dalam matamu yang pelangi. Jemariku beku, jangan salahkan aku jika tak bisa tuliskan namamu. Tapi kutahu kau mengerti di udara nafasku melukismu tanpa henti. Hujan atau badai cuma mendekap. Kau melaju menembus jantungku, tak hendak kujahit lubanglubang jejakmu*

sepetak saja

sepetak saja

Sunday, March 6, 2011 at 2:50am

Musim telah genap menanam penglihatan dalam liang jiwa. Kelak bersemi tunastunas buta bermata logam, mulia membaca jaman. Kita yang menanam boleh tersenyum, dalam kepekatan malam. Bulan bintang, bulan bintang memandang ladangladang di dada kita bersinar.

Semoga anakanak kita kelak menuai sajak tanpa jejak luka di bukubuku tangannya. Ya, ini doa, doa perempuan yang mengatupkan lumpur dan jalanjalan berlubang di telapak tangannya. Kotoran ternak di tungkainya mengeras menjaga lutut dari tetesan airmata ketika keningnya rindu menyentuh bumi, rindu berbagi mimpi dini hari.

Musim semi tak akan lama, esok pagi singgah, malam berkelana menziarahi lembah, tanah merah, daundaun keemasan, biarkan malam melupakan dendam dengan sederhana*