Selasa, 22 November 2011

simply

Kalau mau diakui sebagai kucing mesti mahir mengeong. Burung berkicau.
Kalau kuda mesti meringkik, kambing mengembik. Ayam jantan berkokok.
Tapi manusia? Apakah nama suaranya. Bagaimana caranya supaya aku boleh mengaku manusia.
Bangsa manusia tak sudi berbagi rahasia bunyi manusia. Aku sedih. Aku tertawa.
“Kau manusia,” kata sebuah suara, tapi aku tak percaya*

probabilitas


Tak ada yang sudi bertaruh dengannya. Tak ada yang bersedia selalu kalah. Maka dia duduk di sudut, tersisihkan dari permainan. Menatap pertaruhan demi pertahuran main curang, menuankan hamba hamba, menghambakan tuan tuan. Ia mulai berhasrat mempelajari cara bermain untuk mengalahkan dirinya sendiri.

Kalau bisa kubiarkan diriku kalah di setiap pertaruhan, mungkin mereka akan mau bertaruh lagi denganku.

Mungkin mereka tak akan menuduhnya gila ketika menjumpainya di perjalanan silih berganti saling menunggangi dengan dengan kepalanya sendiri. Di atas kaki atau kaki di atas adalah cara berjalan yang akan mengantarnya di persinggahan yang sama, yang selalu membuatnya tak memahami kemenangannnya sendiri atau kekalahan yang tak mau berkawan.

Jika saja aku semurah hati tuan tuan. Serendah hati hamba hamba. Mungkin segalanya akan lebih menyenangkan di atas kepala atau kepala di atas.

Dia hanya hampir menyerah*

mabuk


Mabuk tak butuh teman. Ia tangan tangan yang mencari tempat selapang jagad raya untuk membanting semua pigura, biar semua senyum saling memeluk, tak lagi berada di balik kaca. Mabuk mengukir jalan panjang di sekujur tubuh sampai di pintu rumahmu. Mengetuk dengan satu telapak tangan sejajar dada. Menyembunyikan di balik punggung telapak tangan yang menggenggam serangkaian bunga, balon kecil, lidi berujung coklat berbentuk jantung hati dan sepasang boneka monyet yang saling cinta.
Ketika kaubuka pintumu, mabuk menjelma pungguk yang menghambur ke pelukan purnama di kedua matamu. Mabuk tak peduli di sebalah mana purnama paling sempurna, yang mana saja. Dua biji mata bulanmu untuk memuaskan seekor pungguk yang menetas dari mabukku. Tak bisa lebih, mabuk telah menunjukmu melarikan kehendakku sampai batas langit.
Bayangmu terus kureguk demi mabuk menjadikanku pungguk yang merangkum dua bulan biji matamu. Aku belum puas, belum terpuruk di mata kakimu yang nanti menerbitkan matahari*
Hikz…

kematianku,


Kau menumpang terbang benang layang layangku. Tumbuh sedekat lengan ibu, melindungiku dari kegeraman rumah jagal dan kumuhnya kolong tempat tidurku. Memandikanku dengan air hangat ketika aku pulang terlambat dari pesta dansa pertamaku. Kaubisikkan angka angka yang akan muncul pada dua butir dadu demi kumenangkan boneka beruang besar berjubah sarjana.
Kita semakin dekat dan saling kenal. Seharusnya tak perlu kausebutkan nama dan asal usulmu. Mendadak kau menjadi sosok asing yang dingin, yang kucemaskan hanya bersikap ramah supaya aku mendekat agar kausergap di waktu yang tepat. Kau pasti meminta tebusan sangat tak masuk akal kalau aku ingin kaulepaskan.
Kau dan aku tak bisa bermain bersama lagi. Sungguh. Aku pasti masih akan menjadi teman dekatmu, seandainya tak kaukatakan siapa kau sebenarnya. Aku masih mengenang alangkah seru kaubidikkan kelereng masa kecilku pada kaki robot robotan itu. Kalau saja kau rela menipuku hingga aku tak pernah semakin mengenal dan dekat padamu, mungkin sore ini layang layangku masih merajai angkasa, mematahkan musuh musuhnya sambil meliuk dan memekik panjang*

Senin, 21 November 2011

satu hal

Percayalah, kau tak pernah membuatku bersedih. Tak pernah membuatku menangis. Tak pernah menjadi kerisauan, tak sekalipun mengecewakan, tak pernah kusesalkan. Tidak sedikitpun. Kecuali satu hal, ketika kau menyangka aku kelelahan menemanimu jalan jalan malam hingga tak bisa terbang membangunkan matahari untuk menghangatkanmu besok pagi*

penjaga hati


Gagang sapu tak pernah menyentuh debu, hangat telapak tanganmu saja yang dikenangnya sebagai pekerjaan membersihkan pijakan kakimu. Gagang sapu tidak menyapu, tak menyangkal sebagai sapu.
Lidahku menjilat muntahanmu. Aku tak merasa jorok, tak menyangkal sebagai hambamu, kain sobekan kaosmu telah kubuang bersama isi perutmu.
Jika masih mengendap sebagian ingatanmu tentang penjaga hati*

Minggu, 20 November 2011

amitabha

Kalau kau pernah menulis cerita, meski acak acakkan, tak bagus dan tak sampai selesai, kau akan lebih mengerti perasaan tuhan. Selama ini kukira hanya manusia yang ingin dimengerti perasaan dan isi hatinya atau apapun namanya yang menyesak di dalam sini. Tuhan pasti selalu baik baik saja, menulis cerita memberiku pandangan baru. Tuhan juga sendiri di sana, memandangku dengan mata sendu, tekun mengirim isyarat rindu, sering mengeluh tanpa suara, mengertilah aku, tuhan ingin mengatakannya berulang kali. Sesering bencana, dan aku dengan tak peduli terus mengarang cerita tentang sosok perkasa yang serba bisa, yang tak butuh siapa siapa.

Ini juga karanganku, khayalanku, imajinasiku. Ketika mengerjakannya sebisa mungkin kuacuhkan pengandaian tuhan tidak berkenan. Lagi pula kalau benar tuhan adalah tuhan dan tidak berkenan, pasti dia akan membuatku berhenti berkata kata. Tuhan diam dan aku baik baik saja, tak ada guntur besar, gempa bumi atau tsunami menyerangku saat ini. Beranilah kusimpulkan tuhan tidak keberatan dan baik baik saja dengan apa yang kukerjakan.

Cerita tentang tuhan kerap membosankan, sebab tak ada yang nekad usil menggambarkan tokoh tuhan tak seperti yang lazim dibaca dan didengar sejak dahulu kala. Mungkin bahanku terlalu terbatas, tak membaca banyak cerita heboh yang menyimpang tentang tuhan yang serba maha. Orang orang atheis pasti punya segenap bukti meyakinkan bahwa tuhan konservatif sama sekali tidak penting. Sesungguhnya kaum atheis telah lebih dahulu mengenal tuhan, mempelajarinya baik baik, mencoba memahami hingga mereka menjadi begitu muak dan sia sia. Konon segala yang berlebihan berujung kehancuran, paling tidak kebosanan. Sangat berlebihan berlanjut pada kemuakan ekstrim. Serupa listrik yang digunakan dengan beban daya terlalu berat berakhir dengan ledakan dan putusnya aliran, padam. Mirip itulah kejadiannya, manusia manusia atheis akhirnya menyingkirkan tuhan jauh jauh dari hidupnya setelah berkutat terlampau dekat. Kalau aku berani menafsirkan tuhan sebebasnya, wajar sekali kalau aku juga berani menarik kesimpulan untuk orang orang beragama dan atheis dengan sebebasnya sekaligus, dua duanya berhubungan dan menyangkut sosok tuhan yang kuandaikan selalu berkenan.

Mereka yang relijius selalu menemukan alasan untuk membela tuhan, mereka yang atheis sebaliknya tak pernah kehabisan ide menghujat tuhan. Keduanya adalah kesimpulan tak terdebat tentang eksistensi tuhan. Aku bukan agamis atau atheis, aku cuma mau cari untung dan selamat dunia akhirat. Itupun jika akhirat memang ada, kalau tak ada aku tak akan rugi apapun, setidaknya aku mahluk cerdik, kau mungkin lebih suka mengataiku plin plan dan menjijikkan. Kerjakan saja, kau berhak penuh, setara dengan semua yang pernah dan masih akan kukatakan berulang bahwa akulah satu satunya yang benar. Hahaha…

Gawat, kalau dibaca yang berwenang aku bisa dituduh tak waras, menyebarkan kesesatan, dan apa saja yang intinya membuatku layak jadi tahanan. Kalau itu terjadi di bumi, tuhan tak akan peduli, tak menolong, malah seolah olah lupa aku adalah salah satu ciptaannya, dan hanya bisa mengerjakan segala yang tuhan berkenan. Kalau otoritas atheis yang berkuasa, aku tak tahu apa yang terjadi, sejauh pengalamanku kaum atheis enggan mengusik seseorang yang diduga tak waras, mungkin mereka akan sama sekali tidak peduli, dalam arti tak peduli aku hidup atau mati. Manakah yang agak lebih baik, hukuman atau ketidak pedulian, sama sama menyakitkan untukku yang perasa. Hahaha…Aku bilang aku perasa. Hahaha…

Tak ada yang bisa menilai diri sendiri, dan aku tak perlu pengecualian untukku. Aku tak boleh resah kalau ada yang bilang aku bebal, dungu, kejam, atau apapun yang terburuk. Tak boleh galau meskipun yang bilang adalah diriku sendiri. Tak ada yang obyektif menilai diri sendiri, hahaha…

Aduh kenapa jadi jauh, selalu begini akhirnya aku cuma menulis yang kacau dan tanpa kerangka pikir, istilah orang orang pintar itu. Sekarang waktunya kembali ke topik awal. Jika masih ingin menulis, aku harus menggunakan sepenuhnya kehendak bebasku untuk memilih siapa yang baik dan benar, atau baik tapi salah, atau jahat tapi benar, atau jahat dan salah. Rasanya benar benar menjalankan peran sebagai tuhan. Sebagai tuhan, aku tak butuh pembenaran atau dukungan, tak keberatan melakukan kesalahan dan mengabaikan hujatan. Kurasa hanya orang hebat yang mampu menulis, meskipun tak bagus, acak acakkan, tak tamat, masih boleh kutambahkan kekurangan lainnya yang berdampak luas maupun personal, macam mengubah nilai nilai masyarakat, atau membuatmu cemberut, mengkerut sampai membenciku. Seperti tuhan, sesungguhnya aku merasa berhak menerima senyum dan pujian setiap saat sekalipun ada yang kubuat porak poranda. Kalaupun bukan senyuman atau pujian yang kudapat, seperti tuhan, akupun akan terus berkata kata dan bertindak seolah olah itu hanya kelalaianmu saja. The show must go on. Amitabha*