Selasa, 28 Juni 2011

hutan lindung

by Dian Aza on Friday, May 20, 2011 at 10:28pm
Burung burung tentu ingin membuat sarang di rambutmu hutan lindung tumbuh memenuhi bantalku, bau lembab cuaca, lingkaran tahun pada batang batang pohon menyimpan resah.Tak layak bertanya jika tak paham. Tak pantas menceritakan muara pada mata air, akhir tentu telah memahami awalnya sendiri. Aku hanya tinggal bersandar pada dahan menatap daun daun berguguran menghampiri tanah yang menumbuhkan.

Kepalamu selalu penuh lagu, beralih ketukan nada mengalun tanpa jeda hingga burung burung betah bersarang di sana.
Bisa kupunguti bulu ekor burung yang rontok ketika mereka saling bercanda tentang rumah, telur telur menetas, belajar terbang. Kuikat erat tanpa terjerat. Tersesat hanya sebentar di belantara yang tak pernah mempermasalahkan arah, teduh ke manapun menghadap. Semusim kemudian aku sudah punya kipas, bisa menggerakkan udara mengusir gerah dari dadamu yang melapangkan*

lubang jalan

by Dian Aza on Friday, May 20, 2011 at 10:24pm
Suatu ketika bayang bayang begitu perkasa merangkum tubuhnya sendiri. Menghardik segala sumber cahaya, menepi, menepi hingga ke ujung bumi. Aku tak tahu di mana ujung bumi, di mataku cahaya hanya menepi, meninggalkan barisan sepi berdiri mematung sepanjang jalan. Itu tiang lampu, gagu dan bisu, tak bisa menyala tanpa sumber cahaya. Jauh di sana, entah di mana ujung bumi mungkin sedang berlangsung pesta kembang api, atau berkedip tanpa suara, menitik air mata. Ujung bumi di mana cahaya menepi ingin merayakan kedatanganku yang telah sia sia memisahkan tubuh dan bayang bayang. Inikah malam, aku ingin bertanya kepada jalan siapa mengantar wangi irisan daun pandan kepada bayang bayang, terlalu menyumbat nalar*

anjani

by Dian Aza on Thursday, May 19, 2011 at 4:47pm
tanda salib di baju merah bersinar
berkah tuhan berjatuhan
hujan warnawarni
senja tertinggal di seberang
jalan pulang*

mosquito poetic

by Dian Aza on Thursday, May 19, 2011 at 5:45am
Ingin kutulis puisi, tak ada yang mencintaiku seperti kau, di depan jendelamu, memandangi tidurmu yang bosan menunggumu memejamkan mata. Sudah pagi, aku masih ingin menulis puisi, kau bermimpi, membuka jendelamu menemukan puisiku, tak ada yang mencintaiku seperti kau, tapi aku sudah berlari jauh memasuki telingamu, berdengung merdu, tak ada yang mencintaiku seperti kau, seirama gerak tanganmu menggaruk pipi, ada jejakku di situ, setitik merah yang terlepas dari tanda baca. Aku sedang mencari tempat istirahat, sudah kukerjakan bagian kecil untuk hidupku. Sungguh sudah pagi, aku masih ingin menulis puisi, darahmu terasa sangat gurih*

suara suara

by Dian Aza on Wednesday, May 18, 2011 at 12:55am
Ayahku, ibuku, kekasihku, suamiku, anakku, saudaraku, sahabatku, temanku, kalian semua nerakaku. Namun sekelebat lewat dalam ingatanku, seseorang mengerling seraya berbisik,”Neraka jalan pintas menuju surga.”

Mendengar bisikannya aku tak tahu harus menangis atau tertawa. Setidaknya aku bisa diam sejenak, tak memanggil siapa siapa, mengacuhkan siapa saja yang memanggilku dengan semua kata. Semua seruan penghuni dunia hanya menggambar neraka atau surga dengan lidahnya* 

tidak seperti dia

by Dian Aza on Tuesday, May 17, 2011 at 11:37pm
Di jalan ini aku biasa menemui seorang manusia paling bahagia. Seseorang yang begitu kacau dan kumuh, tak bisa kulihat wajahnya dengan jelas, sekujur tubuhnya penuh lumpur dan debu seperti bertahuntahun tak terbasuh. Dia selalu duduk meringkuk memeluk lututnya sambil menengadah. Mungkin dia tak bisa bicara, anehnya bibirnya selalu nampak tertawa, tanpa gerak, tanpa suara, tanpa guncangan di bahunya. Dia seolah selalu tertawa diamdiam sambil memandang ke atas, mungkin awan mengajaknya bercanda saat siang dan lampulampu membuatnya gembira ketika malam. Dua kali sehari kulewati jalan ini, kadangkadang lebih sering. Inginku selalu lebih sering, tapi kusadari banyak yang harus kekerjakan selain jalanjalan. Aku tidak seperti dia, aku manusia normal yang punya kehidupan*

jejak sawah

by Dian Aza on Wednesday, May 18, 2011 at 12:23am
Untuk menanam benih, petani seakan akan memporak porandakan tanah, mencangkul dan membajak berkalikali, mengairi, menggali, melubangi. Tanah gembur di mana kelak tanaman tumbuh subur selalu terlihat hancur, bergunduk gunduk, penuh lubang berbagai ukuran. Kaki kaki yang menginjak atau melangkah melewati sepetak tanah pertanian terawat pasti akan tertempel noda lumpur tebal yang sulit dibersihkan, lengket. Aromanya juga melekat erat, masih tercium meski lumpur telah mengering*