Kamis, 21 April 2011

boneka jerami dan petani

boneka jerami dan petani

by Dian Aza on Tuesday, March 15, 2011 at 7:49am
Suatu hari ketika terjaga dari mimpi,
kutemukan kedua matamu masih terpejam,
tubuhmu belum beranjak dari bawah pohon asam.
Secepatnya kuhapus ingatanku tentang nama
nama nabi dan ayatayat kitab suci. Tak peduli
mereka memanggil dan memohon berulangkali
padaku untuk kembali. Entah bagaimana,
aku merasa kita telah sangat tersesat, tak sengaja
tiba di surga yang berdosa,
surga yang dilempar ke tengah sawah*

sekolah pohon

sekolah pohon

by Dian Aza on Monday, March 14, 2011 at 3:53pm
Embun hanya singgah sebentar, agar aku belajar mencintai malam.

Tapi aku adalah daun yang selalu lapar, hanya cahaya matahari yang bisa memasakkan makanan, agar aku tumbuh segar dan lebar. Aku tak ingin malam singgah lama, dini hari segera berlalu, matahari cepat tinggi dan hangat.

Mungkinkah bintangbintang sedih dan terluka mendengar kupinta siang cepat datang. Bintangbintang mungkin menangis, meluruh, jatuh, butirbutirnya berkilau di sekujur tubuhku. Serupa selimut sejuk, menyentuh lembut. Aku tertidur.

Hari telah terang sempurna saat aku terjaga. Tak ada bintangbintang, pun tak ada butirbutir berkilau jernih di tubuhku. Hilang semua, tanpa jejak. Aku mencium bau bahan makanan yang dikirimkan akar lewat batang dan ranting. Tangantangan matahari tangkas memasak. Dalam sekejap terhidang makanan, kulahap sampai kenyang dan puas.

Kembali aku terlena, diayun semilir angin, kutatap angkasa, Seandainya bintangbintang ada di sana sekarang, seandainya langit menjatuhkan butirbutir jernih sekarang, betapa senangnya.

Mungkin kali ini awan yang mendengar keluhanku, wajah putih cerahnya segera berubah kusut dan kelabu. Langit sekan tersedu dengan suara keras, kemudian  butirbutir bening berjatuhan deras, teramat deras. Harus kupegang ranting eraterat agar aku tak terseret ikut luruh ke tanah. Butirbutir jernih terus berjatuhan, besar, deras dan lama. Aku meringkuk sambil terus mencengkeram ranting eraterat. Butirbutir jernih ini terlalu besar untukku, terlalu kencang hempasannya pada tubuhku, aku merasa seruanku tak terdengar ditelan gemuruh cairan yang jatuh.

Tepat ketika aku merasa sangat lelah berpegang, nyaris putus asa melepaskan ranting, segalanya berhenti, butirbutir bening tak lagi deras jatuhnya. Reda. Langit tenang. Tubuhku terkulai basah, seperti layu.

Angin berhembus, dan aku mulai kembali merasa lapar. Tapi matahari sudah tak hangat lagi, hampir rebah di cakrawala. Sebentar lagi gelap.

Aku berdebar menantikan bintangbintang mendatangi langit. Aku takut telah kubuat semua bintang menangis atau meleleh sampai habis kemarin malam dengan katakataku. Aku begitu kuyu saat ini, cemas, lapar dan sangat berharap tak lagi melakukan kesalahan*

pelangi di kamar mandi

pelangi di kamar mandi

by Dian Aza on Monday, March 14, 2011 at 2:05pm
Ketika pertama kita menemukan lengkung pelangi di kamar mandi,
tanganmu sibuk menunjuk hingga tak sengaja menusuk mataku.

Ketika mataku merah, perih dan berair, kau menatapku iba
dan berkata,”Padahal gelembung sabun tak punya sudut.”

jatuh cinta

jatuh cinta

by Dian Aza on Sunday, March 13, 2011 at 3:20pm
Bahkan langit tak sanggup menghapus pelangi

ketika hujan terlanjur reda sebelum gelap.

Kau berdiri basah kuyup, aku tertawa memandang

sepasang payung terlipat di bawah bangku taman

berhimpit rapat di sela rerumputan*

balas jasa

balas jasa

by Dian Aza on Sunday, March 13, 2011 at 2:33pm
Hanya dengan katakata aku bisa congkak

mendongakkan kepala

memerangkap keheningan dalam mata

agar tak tumpah membasahi sajak*

kabar gembira

kabar gembira

by Dian Aza on Sunday, March 13, 2011 at 2:24pm
Air api memanggil siang dalam ombak, singgahlah ke dalam gelas, ada bibir menggigil merindu serpihan kertas dari bukubuku tua. Sebelum digelapkan malam yang masih panjang di kedaikedai arak. Di balik tirai sembunyi banyak bulan berbeda pada masingmasing jendela. Mata anakanak bersinar mendengarkan dongeng pengantar tidurnya, ke mana doa terarah hanya soal langkah. Tak pernah menjadi penting setiap garis bilangan, sebelum terbagi titik bertanda angka.

Kanan tak selalu bertambah, kiri tak akan habis. Yang mabuk mestinya tak bisa berhitung. Seperti ayam, babi , sapi dan burung onta, berjalan mondarmandir mengunyah rumput, sedang jariku sibuk menunjuk gambar sumur. Seperti itu pula hidup mesti berlangsung, memungut telur, daging, susu dan bulu ekor, sederhana, penuh berkah.

Mata biar terus merah, terus mengalirkan hangat untuk kalimatkalimat dahaga dalam segelas rasa muak. Kau mahir mengarak resah dalam tawa gelisah. Biar saja anakanak kita tak punya arah, tak usah mencari surga, neraka tak suka orangorang buta, tak pandai memilah emas dan kertas. Tapi ujung jari selalu bisa menyentuh setitik embun, tertinggal di batu karang, jembatan, atap gudang, pecahan kaca, roda sepeda, rumputrumput, terlindung selimut pinjaman kaum tuna wisma, jika sempat tertidur di tepi jalan saat ombak kiriman arak menerjang puncak kepala*

paradoks siang

paradoks siang

by Dian Aza on Sunday, March 13, 2011 at 1:06pm
Agar senja rebah di setumpuk surat yang belum kaubaca, aku tekun menjahit jariku dengan jarum arloji hadiahmu. Titiktitik merah jatuh memecah kaca, membebaskan waktu dari lenganmu. Kau masih tekun bermimpi, kudengar kau berkata dalam tidurmu,”Tak akan pernah kubiarkan kau menunggu.”

Aku memohon lembah menjaga fajar jangan dulu terjaga, ketika kau masih memahat senja pada sebutir bola mata*