Sabtu, 14 Mei 2011

cinta dalam sepotong bakpao

cinta dalam sepotong bakpao

by Dian Aza on Monday, March 21, 2011 at 12:11am
Cuma sepasang kekasih miskin yang bisa makan bulan hangat di pinggir jalan tengah malam, tak khawatir akan dirampok orang. Bulan istimewa, bisakah kau dengar kacang tanah berceloteh renyah di lidahku, mereka berkata jejak nafasmu seharum surga*

setengah salah

setengah salah

by Dian Aza on Sunday, March 20, 2011 at 11:46am
Aku lalai minta kau menjaga mimpimimpi burukku, hingga tangantangan jahil mencurinya. Tangantangan jahil berkuku hitam dan panjang, datang dari bawah tanah yang entah. Tangantangan jahil terbang menunggangi mimpimimpi burukku, memporakporandakan kota. Kau pasti tahu betapa perkasanya sayapsayap mimpi mengepak, bisa membakar surga.

Kelalaian kedua adalah milikmu, kau tak minta pertanggungan jawabku. Mungkin itu taktikmu agar aku tak menuntut, bahwa seharusnya kau mengurung setiap mimpi buruk meski yang tidur lupa meminta. Karena kau selalu lebih pintar dan cekatan, lebih cepat dan hebat. Tapi kini kau membuat orangorang tak bersalah menderita karena kelalaian kita berdua.

Semua sudah terjadi, sekarang aku cuma bertanya, masih bisakah aku tidur lagi*

kredo

kredo

by Dian Aza on Sunday, March 20, 2011 at 11:27am
Ada laut dalam tubuhku, gelombangnya mengalun merdu, berkilau menggoda pasir, batu karang, bahkan juga bulan. Kuambil segala warna, kutelan tanpa kenyang. Kuhamparkan untukmu, basah dan gurih, tenang dan ombak, pasang dan surut, selalu menanti kauselami.

Kalau kauingin badai, bisa kusuruh angin mengoyak kulit dan daging, meremukkan tulangtulangku. Badai selalu tinggal di dasar jantungku*

nada sumbang

nada sumbang

by Dian Aza on Sunday, March 20, 2011 at 11:12am
Bagaimana aku tahu bahwa aku hidup, kalau aku belum tahu apa-apa tentang kematian, kematianku. Tentang aku saja ya, itu lebih aman dibanding tentang kau, dia dan mereka. Tentang aku, aku, aku dan aku. Betapa senangnya boleh mengatakan aku berulang kali, sesering yang kusuka. Siapa sih yang tidak suka pada diri sendiri. Kurasa kesukaanku menulis tentang aku masih dalam batas wajar, normal. Rasanya menyenangkan untuk merasa bahwa diriku berada dalam zona aman dan benar. Hahaha, norak sekali ya. Seperti seseorang yang butuh mengkonsumsi obat saja, padahal tidak menyadari kalau sedang mengidap suatu penyakit. Tapi kalau dipikir-pikir siapa sih yang tidak sakit di jaman ini, hanya benda-benda yang kebal, sedangkan manusia, belum sempurna rasanya kalau sehat-sehat saja*

morning kisses

morning kisses

by Dian Aza on Sunday, March 20, 2011 at 8:07am
tenang tenang sayang, hujan abu semalam masih
melekat di rambutku, meninggalkan jejak usapan bulan. Jangan cemburu,
jarangjarang bulan cukup dekat menyentuhku, tak macam kau
yang setiap saat mendekam di leherku. Betapapun perkasanya
bulan tetap cuma berani mampir sebentar sampai
langit timur membuka mata, jingga, saatnya
bulan kembali tenggelam dalam keningmu*

pagi

pagi

by Dian Aza on Sunday, March 20, 2011 at 7:37am
Kau menulis surat cinta terindah dengan gelembung udara. Kubaca dalam rongga dada. Kita tak bertukar kata dengan cinta, tapi cinta memberi cumacuma segala yang belum sempat kupinta. Air mata hanyalah nyanyian gembira kemarau untuk hujan pertama. Lalu kita kembali menanam mimpi di wajah matahari*

dua paragraf

dua paragraf

by Dian Aza on Saturday, March 19, 2011 at 9:48pm

Kalau ingatan bisa memilih kenangan mana yang hendak dijabarkan, aku malah khawatir akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk mencari dan memilah-milah kenangan, daripada waktu untuk menikmati indahnya. Tentang kau, tentu saja, tak perlu ragu tentang siapa yang selalu berdiam di anganku. Tapi tempat, peristiwa, waktu, mana yang paling tepat diingat. Ketika langit sungguh berseri malam ini, bulan merapat ke bumi, hujan sudah berhenti, dan senyummu lebih meriah dibanding nyanyian jangkrik yang sedang jatuh hati.

Aku berharap kaubisa membantuku. Memilih seruas jalan paling hangat dan lengang yang pernah jadi milik kita. Andai kau ada sedikit rindu dan waktu, temani aku melangkah sebentar, kembali menyusuri bau lembab tanah bertabur guguran akasia. Tiba-tiba aku teringat serpihan merah yang dulu biasa terhampar sepanjang jalan kita. Kau bilang sayangmu lebih banyak jumlahnya, bahkan jika ditambah dengan bunga-bunga yang masih melekat di ranting pohon. Aku tersenyum, kalau benar demikian, aku harus segera memakai mantelku lalu keluar mencarimu. Kau tak mungkin tega sembunyi dariku di saat purnama merekah begini indah*