Minggu, 15 Januari 2012

sayang,


Kau membuatku hilang dari ketiadaan. Belum menjadi jawaban. Jauh dari kebenaran.
Tapi cukup, malah terlalu baik menghiburku dari ejekan suara suara yang selalu bertanya
kenapa aku tak pernah resah tentang kau atau rasa yang menyumbat nadiku.
Kaujadikan segenap udara cemburu pada biru jantungku*

sayang,


Setelah menempuh jalanmu kakiku ditumbuhi paku.
Menancap dan melekat erat.
Jalan menjadi tempat.
Langkah bukan mencari arah.

Aku ingin berseru,”Aku pulang.” Dengan nada riang,
kalau saja lidahku tak ditumbuhi tulang,
atau telingamu tak disesaki kuntum bunga yang bermekaran
tanpa henti saat kubisikkan namamu di tiap langkahku*

sayang,

Aku tersenyum untukmu. Entah dari balik ranting dan dedaunan mana, akan kautemukan gerak angkasa. Bukan cahaya, mungkin tanpa warna, kutemukan selalu yang tak bisa padam.
Kaurekahkan bibirku menjelang yang akan datang, berulang ulang serupa pagi dan malam*

anak anak pintar

“Siapa suka kulit telur ?”
Ibu guru tak melihat satu jari telunjukpun terangkat, semua tangan berada di atas meja, di dekat dada kecil masing masing pemiliknya.
Anak anak pintar menatap dengan mata bundar berbinar.
Kuning telur kegemaran ayah.
Putih telur kesukaan bunda.
Anak anak bagusnya melahap semua bagian biar tambah pintar.
Telur mata sapi dengan alis dan senyuman, telur dadar melingkar lingkar mirip ular, sehat dan lezat semuanya.
Kulit telur selalu dikupas dan dibuang ke tempat sampah.
Anak anak pintar*

Senin, 19 Desember 2011

inisial

Malam sama. Jalan sama.
Mencari tepi.
Di tiap tikungan dan bayangan
kau beterbangan mengulurkan tangan*

maqam


Badai mana yang tak indah dan tak gelora.
Hanya jemariku yang tak ingin mengatakan kebenaran.
Yang segan pada pengingkaran, yang gentar pada pemberontakan dan api abadi dari serpihan yang berjatuhan di atas mejamu. Akulah satu satunya pecundang, bukankah sangat layak dirayakan.
Mari bersulang untuk kekalahan*

Minggu, 04 Desember 2011

arsir


Kontes keindahan digelar di segala tempat. Memenangkan setiap peserta. Jurinya pasti pada buta. Seperti aku. Buta dan berseru lantang mengandalkan ujung pensil yang sama, yang menggambar aneka bentuk benda benda, wajah wajah, bayang bayang, tiang tiang, lingkaran lingkaran. Satu ujung pensil cukup melukis seluruh kenangan dan harapan, sebelum tanpa sengaja patah ketika kauajak bercanda. Dan kau punya perautnya, menyenangkan memutar tuasnya, meruncingkan ujung pensil yang sama. Kau selalu juara, aku selalu buta*